<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Susiyanto Here !</title>
	<atom:link href="http://susiyanto1.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://susiyanto1.wordpress.com</link>
	<description>Menuju Ridha Illahi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Mar 2009 03:26:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='susiyanto1.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Susiyanto Here !</title>
		<link>http://susiyanto1.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://susiyanto1.wordpress.com/osd.xml" title="Susiyanto Here !" />
	<atom:link rel='hub' href='http://susiyanto1.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>NARASI 2: HARUS SEPERTI APA BAKTIKU ?</title>
		<link>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/narasi-2-harus-seperti-apa-baktiku/</link>
		<comments>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/narasi-2-harus-seperti-apa-baktiku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 04:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto1</dc:creator>
				<category><![CDATA[NARASI KAKEK TUA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto1.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak manusia berjalan tegap menyusuri sepanjang trotoar jalanan perkotaan. Tiada peduli terus bergerak walau terlihat merangkak disekitar kota mencari secercah harapan. Kesuksesasan telah pula terengkuh tinggal mimpi besar akan sebuah darma bakti yang membayang dalam asanya. Rancangan hidup telah terpenuhi namun sebongkah kekalutan nyata menyapa, datangnya kekosongan jiwa memang tidak terencana. Sungguh benar orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=18&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="line-height:140%;" lang="FR">Seorang anak manusia berjalan tegap menyusuri sepanjang trotoar jalanan perkotaan. Tiada peduli terus bergerak walau terlihat merangkak disekitar kota mencari secercah harapan. Kesuksesasan telah pula terengkuh tinggal mimpi besar akan sebuah darma bakti yang membayang dalam asanya. Rancangan hidup telah terpenuhi namun sebongkah kekalutan nyata menyapa,<span> </span>datangnya kekosongan jiwa memang tidak terencana. Sungguh benar orang berkata <em>barangsiapa hidup untuk dirinya sendiri maka ia akan hidup sebagai orang kerdil dan barangsiapa hidup untuk orang lain maka akan hidup sebagai orang besar.<span id="more-18"></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">Dunia telah tergenggam, apatah lagi yang tiada tercukupi. Namun apa hendak dikata harapan–harapan dunia seolah pupus apabila tiada empunya berjiwa lapang. Sungguh kekosongan jiwa adal;ah siksa tak terkira yang mampu mencabik hati dan menghancurkannya menjadi serpihan hampa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">Gontai dihembus<span> </span>rancu jiwa, berharap bakti akan mendapat saluran namun ingin jiwa memilih, tiada kuasa pilih-pilih sulit memilih. Ingin pilih yang terbaik namun goncang dalam kebingungan mana yang harus menjadi ketetapan. Sungguh sulit menetukan pilihan sesulit menetukkan sikap karena manusia tidak dikaruniai kemampuan untuk tahu apa yang menyapa pada masa nun di sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">Menapaki perjalanan, terdampar raga pada rumah singgah dimana jiwa bisa berinteraksi dengan pencipta- Nya. Coba menata jiwa bertafakur meratap mengharap iba Sang Kekasih, meraba luapan kedalaman rasa. Hingga datang sebuah utusan kebenaran yang membawa angin ketentraman, seorang kakek tua, berpenampilan sahaja, sederhana, penuh pesona yang lahir dari keheningan jiwa. Menyapa lirih penuh kelembutan yang menandakan luasnya samudera hikmah karunia Illah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">“ Anakku apa yang kau risaukan, kulihat resah memayungi langkahmu. Apalagi yang kau risaukan hingga menjadi renjana hati. Gundah agaknya kau rasa, hidup berkalang gulana. Bukankah pernak-pernik isi alam telah kau ayuh dalam genggammu?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">” Pak tua entah apa yang merancau dalam hatiku, dunia saat ini seolah-olah telah ada dalam genggamanku, namun ragaku seolah kosong tak bertuan. Entah apa yang terjadi dalam diriku setiap kukenang masa seolah selalu saja ada yang belum berkesampaian. Asaku melambung, inginku selalu bekecamuk, tidak selalu puas dengan keadaanku kini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">“Anakku adakalanya manusia mengalami kebingungan dalam kehidupannya. Bahkan dalam bakti sekali pun terkadang rasa bingung menggelayut. </span><span style="line-height:140%;" lang="FR">Kadangkala orientasi dan pandangan manusia sangat dominan dalam mengisi tingkah polahnya. Ada yang memiliki tujuan ingin tampil dihadapan manusia sebagai orang yang pantas disanjung dan dikenang, ada yang memiliki keinginan merengkuh berbagai kepentingan dalam sekejap, ada yang berkeinginan dan berorientasi pada segala pernik dunia, dan hanya sedikit orang yang memiliki orientasi dan pandangan yang benar tentang baktinya.’’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;" lang="FR">‘’Kakek tua bolehkah aku tahu seperti apa darma bakti yang ingin engkau persembahkan pada Allah dan sesama kita ?.’’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;" lang="FR">’’Annakku cara berpikir kakek tua seperti aku ini mungkin sangat sederhana sekali. Kau tahu kan di kota ini banyak stom, mobil penggilas jalan. Nak, coba kau amati bakti si mobil penggilas jalan. Sejak awal jalanan di buat ia paling banyak memiliki bakti, meratakan tanah, menggilas aspal, menghaluskan jalan dan hampir semua proses pembuatan jalan melibatkannya. Namun tidakkah kamu tahu, setelah jalan itu jadi si mobil penggilas jalan tidak pernah dapat menikmati jalan yang telah dibuatnya. Jalannya yang lamban tentu saja membuat tidak senang pengguna jalan yang lain, mau ditabrak jelas kalah yang nabrak, mau diserempet sudah pasti nggak menang. Sekali lagi lihat baktinya dia memang jarang sekali menikmati jalan yang telah dibuatnya. Namun dia akan terus membuat jalan-jalan baru yang lain. </span><span style="line-height:140%;">Meratakan tanah yang masih belum rata, menghaluskan jalan yang masih bergelombang.’’<span> </span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FR">Termangu sang anak manusia mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Serasa ada serunai indah yang mengalunkan harmoni kehidupan, bibir kakek tua mencari cara membahasakan kedalaman hikmah yang tersimpan dalam relung jiwanya dalam bahasa sederhana, bahasa yang dipahami manusia. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dan sungguh benar sesuatu yang datangnya dari hati, maka akan sampai di hati pula.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto1.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto1.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto1.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto1.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/susiyanto1.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/susiyanto1.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/susiyanto1.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/susiyanto1.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto1.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto1.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto1.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto1.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto1.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto1.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=18&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/narasi-2-harus-seperti-apa-baktiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fb83a6a70f37b6a71e21d1c0cf1421c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FILE 3: HILANGNYA SIDIK JARI PADA BARANG BUKTI</title>
		<link>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-3-hilangnya-sidik-jari-pada-barang-bukti/</link>
		<comments>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-3-hilangnya-sidik-jari-pada-barang-bukti/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 04:26:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKSI IAN KHAIRIANSYAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto1.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kasus kejahatan pembunuhan telah terjadi pada pertengahan ulan September tahun 2006. Wilayah Mojo Songo, yang terletak di Surakarta bagian utara, yang selama ini merupakan wilayah yang cukup tenang, digemparkan dengan kejadian tewasnya seorang wanita yang di bunuh suaminya. Haryanto, demikian nama sang suami, telah bertindak secara nekad meracuni Sarifah, istrinya. Malam pada saat terjadinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=14&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><span lang="IN">Sebuah kasus kejahatan pembunuhan telah terjadi pada pertengahan ulan September tahun 2006. Wilayah Mojo Songo, yang terletak di Surakarta bagian utara, yang selama ini<span> </span>merupakan wilayah yang cukup tenang, digemparkan dengan kejadian tewasnya seorang wanita yang di bunuh suaminya. Haryanto, demikian nama sang suami, telah bertindak secara nekad meracuni Sarifah, istrinya. Malam pada saat terjadinya peristiwa pembunuhan itu, Haryanto dan Sarifah bertengkar hebat. Pertengkaran itu dianggap tidak wajar oleh tetangganya, karena menurut kesaksian mereka, <span> </span>keluarga Haryanto selama ini sangat rukun dan Harmonis. Pertengkaran dalam keluarga mereka sangat jarang terjadi.<span id="more-14"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Haryanto sehari-hari bekerja sebagai sopir angkuta. Praktis kehidupannya, terutama pada siang hari, lebih banyak berada di jalanan daripada di rumah. Sementara itu Sarifah ikut membantu suami yang penghasilannya tidak seberapa dengan berjualan sayur keliling. Keluarga mereka belum dikaruniai anak. Hal itu memang disengaja. Haryanto dan Sarifah, yang belum terlalu lama menikah itu, memang belum mau direpotkan dengan mengurus anak. Mumpung masih muda kita harus pintar-pintar menikmati hidup, demikian jawaban Haryanto setiap ditanya oleh rekan-rekannya sesama sopir mengapa sampai sekarang belum punya anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Latar belakang kehidupan Haryanto pun tidak bisa dibilang ‘wah’. Dia lahir dari keluarga sederhana. Sekolah tidak sampai tamat SMP karena masalah ekonomi keluarga. Pernikahannya dengan Sarifah, gadis yang sempat mengenyam pendidikan di SMEA walaupun tidak sampai lulus itu, berkat keinginan orang tua Sarifah. Sebelumnya Sarifah sangat dekat sekali dengan Haryanto. Akibatnya, karena mereka tinggal di pinggiran kota, di mana kebebasan bergaul dengan lawan jenis belum begitu umum, orang tua Sarifah meminta orang tua Haryanto untuk menikahkan saja anak mereka disebabkan tidak tahan dengan gunjingan orang-orang di kampungnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Setelah menikah mereka perlahan-lahan mulai menata hidup dengan lebih baik. Sedikit demi sedikit perabotan rumahnya yang baru didirikan mulai terisi dengan barang-barang mewah menurut standar mereka. Ada televisi sebagai hiburan, lemari es yang digunakan istrinya untuk membuat es mambo yang dititipkan ke warung-warung dan menyimpan sebagian sayuran yang tidak habis terjual,<em> tape recorder</em>, VCD player, dan beberapa peralatan elektronik lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Haryanto juga memiliki hobby yang oleh para teman-temannya sesama sopir dianggap unik. Dia menyukai dunia laku kebatinan dan percaya kekuatan benda-benda bertuah. Tidak heran jika di rumahnya Haryanto paling tidak punya lima buah keris yang cukup terawat, satu buah <em>tatal</em> yang biasa digunakan dalam menghitung hari baik, beberapa buku primbon dan mujarabbat, serta sejumlah jimat yang dianggap memiliki kekuatan ghaib. Haryanto bahkan memiliki kamar khusus untuk menyimpan benda-benda itu. Maka, tidak heran ketika memasuki kamar tersebut orang akan langsung merasakan suasana mistis yang kuat. Keris terletak di sebuah lemari kaca. Di lemari itu juga terdapat <em>kol buntet</em> yaitu benda berbentuk keong yang tidak memiliki lubang dan dipercaya sebagai jimat untuk kekebalan. Bambu <em>pethuk </em>yaitu bambu yang kedua cabangnya saling berhadapan yang dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan juga tersimpan di lemari itu. Buku-buku terletak dimeja, sementara di dindingnya ada sesobek kulit rusa dan kulit harimau yang diyakininya bisa meningkatkan kewibawaan dan juga pedupaan di salah satu sudut ruangan itu lengkap dengan berbagai jenis kemenyan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Walaupun Haryanto begitu unik namun teman-temannya sangat tidak percaya ketika dia pada pertengahan bulan September itu, dia ditangkap polisi sebagai tersangka peracunan terhadap istrinya. Haryanto adalah sosok yang tidak terlalu banyak bicara sehingga tetangganya pun merasa sangat heran ketika mendengar dia dan istrinya bertengkar pada malam kejadian pembunuhan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Haryanto, menurut pengakuan yang diberikannya kepada wartawan, merasa menyesal telah membunuh istri tercintanya. Penyesalan itu dibuktikannya dengan mengakui seluruh detail kejahatannya yang telah dilakukannya di hadapan para penyidik kepolisian. Motifnya ternyata sangat sederhana. Menurut Haryanto, disela-sela kesibukannya sebagai sopir sore hari itu dia bersama teman-temannya sesama sopir sempat menyaksikan sebuah CD ‘film biru’. Ketika pulang Haryanto meminta istrinya untuk melayaninya. Namun malam itu istrinya menolak karena dia merasa sangat kelelahan setelah seharian bekerja. Haryanto memaksakan kehendaknya sehingga terjadi pertengkaran yang kemudian di dengar oleh tetangga-tetangganya sampai akhirnya terjadi kasus peracunan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:center;text-indent:33pt;" align="center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN"><span> </span>Berikut ini adalah cuplikan rekaman ketika Haryanto dimintai keterangan di hadapan penyidik kepolisian:<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Haryanto : “Itu gara-gara nonton CD ‘Reog’, Pak ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Penyidik : “Reog ? Reog kok bisa menyebabkan kamu membunuh istri kamu ? Apa hubungannya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;text-indent:33pt;"><span lang="IN">Haryanto :“ Maksud saya, film ‘begituan’, Pak. Saya nontonnya sama temen-temen di terminal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Penyidik : “Oooo. Begitu. Jadi malam itu setelah kamu nonton Reog, kamu jadi kepengin memakai memakai ‘WC’, ya ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Haryanto: “WC, Pak ? maksudnya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Penyidik : “Kamu itu jangan terlalu <em>blak-blakan</em> lah, masak begitu saja nggak tahu. Anggap saja kamu mau pakai WC. Tapi istri kamu nggak mau WC-nya dipakai.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Haryanto: Be &#8230;benar pak. WC-nya kelelahan, katanya”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Penyidik : (tertawa karena analogi yang diciptakannya menimbulkan kelucuan dalam proses penyidikan) Ada-ada saja kamu. WC kok bisa kelelahan. Teruskan”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Haryanto: “Saya jadi kalap pak setelah itu. Kami bertengkar. Hampir saja saat itu saya menamparnya ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Penyidik : “Hampir saja ? Tetapi di tubuh istrimu memang terdapat bekas tamparan yang membiru artinya kamu benar-benar menamparnya bukan sekedar hampir saja “.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Haryanto : “Itu terjadi setelahnya, Pak. Setelah bertengkar yang pertama itu saya kemudian duduk di sofa depan. Saya ngalamun di sana. Rasa-rasanya saya menyesal sudah bertengkar dengan istri saya. Lalu saya membuat dua gelas minuman suplemen penambah tenaga dan saya bawa ke kamar istri saya”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Penyidik : “Kamu juga memasukkan racun ke dalam minuman suplemen itu ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Haryanto: “Tidak, Pak. Saya ingin berbaikan kembali dengan istri saya dengan membuatkan minuman itu. Lagi pula dia kan nggak mau gituan, alasannya karena kelelahan jadi saya buatkan suplemen itu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Penyidik : (Tertawa dengan cara berfikir Haryanto yang dianggapnya sederhana)“Lantas bagaimana racun itu bisa masuk ke minuman suplemen itu ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Haryanto : Istri saya tetap menolak, Pak. Maka kami kemudian bertengkar lagi. Saya lalu keluar. Saya sangat jengkel sekali saat itu. Lalu saya mengambil keris di ruangan penyimpanan, keris itu saya gunakan untuk menakut-nakutinya. Saya katakan dengan keris itu saya bisa membuat dirinya mengalami nasib sial jika dia tetap menolak permintaan saya”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Penyidik : “Apa saat itu istri kamu sudah minum suplemen itu ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Haryanto :” Saya nggak tahu, Pak. Tapi kalau saya sudah sempat minum sedikit”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Penyidik : “Lanjutkan ceritanya. Bagaimana racun itu sampai bisa masuk ke suplemen ?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Haryanto : “Istri saya malah mengejek saya, Pak. Dia memaki-maki saya, bahkan kalau saya mau di suruh ‘jajan’ saja di terminal. Mendengar itu saya jadi benar-benar kalap. Saya gampar dia sehingga jatuh tengkurap di ranjang, dia menangis di ranjang itu sambil tetap tengkurap. Karena jengkel minuman yang ada di meja kamar itu saya aduk dengan keris dan saya tinggal begitu saja. Lalu saya keluar kamar dan tidur di kursi tamu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Penyidik :”Lalu keesokan harinya istri kamu sudah mati. Tahu dari mana bahwa keris itu sebenarnya beracun ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Haryanto:” Pak, sebenarnya saat itu sama sekali tidak bermaksud membunuh istri saya. Saya hanya jengkel saja saat itu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Penyidik :”Tetapi kenyataannya istri kamu mati karena racun itu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Haryanto : (menunduk)”Dulu ketika saya mau memberi warangan baru ke keris itu. Bekas air untuk mencuci keris itu diminum ayam dan tidak terlalu lama setelah itu ayamnya mati”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Dari hasil visum yang dilakukan di Rumah Sakit Muwardi dinyatakan bahwa Sarifah tewas setelah menenggak minuman suplemen yang mengandung senyawa <em>arsenik</em>. Arsenik atau yang biasa dikenal dengan <em>warangan</em> adalah sejenis racun yang sangat dikenal masyarakat Jawa terutama kalangan pecinta <em>tosan aji</em> atau besi bertuah semacam keris. Pamor keris akan semakin bagus setelah keris itu dijamas dengan warangan. Prosesnya sederhana, keris dicuci dengan jeruk nipis untuk menghilangkan kotoran yang menempel lantas diolesi dengan warangan. Arsenik ini adalah racun yang sangat berbahaya. Jangankan meminumnya, kulit yang tergores kemudian lukanya terkena arsenik saja bisa cukup membahayakan jiwa jika tidak segera mendapatkan penanganan tepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Dalam penyidikan kepolisian tersebut ada satu bagian detail psikologis yang agaknya dilupakan oleh penyidik. Kejengkelan yang amat sangat seringkali tidak harus diekspresikan dengan membunuh. Bisa jadi seseorang akan melakukan hal-hal yang membahayakan jiwa orang lain yang membuatnya merasa tidak nyaman, walaupun motif sebenarnya bukan untuk menghilangkan nyawa orang tersebut untuk. Hal itu merupakan salah satu bentuk perilaku manusia yang umum sebagai respon terhadap ketidaknyamanan tersebut. Sebuah modifikasi perilaku pelarian diri dari hal-hal yang membuatnya tidak senang sekaligus menyalurkan energi emosinya ke dalam bentuk perilaku lainnya. Namun pihak kepolisian dalam Berita Acara Pidana (BAP) memasukkan pengadukan suplemen dengan keris itu murni <em>an sich</em> sebagai upaya untuk memperkuat motif pembunuhan tanpa mempertimbangkan faktor psikologis tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Menurut Ali Mahalli, seorang anggota kepolisian yang ikut menyaksikan persidangan atas kasus Haryanto tersebut, ada sebuah hasil penyidikan yang sebenarnya bisa digunakan sebagai point alasan untuk meringankan hukuman Haryanto, namun justru hal itu tidak pernah satu kali pun di singgung dalam prosesi pengadilan. Mungkin karena selama proses penyidikan dan pengadilan Haryanto bersikap sangat kooperatif, sehingga sidang akhirnya hanya terkonsentrasi pada pengakuan Haryanto saja. Tetapi bisa juga karena pengacara yang disediakan untuk Haryanto belum terlalu berpengalaman sehingga tidak bisa memanfaatkan point tersebut dengan baik. Dalam beberapa kasus di pengadilan seringkali terjadi, pengacara yang ada tidak terlalu gigih memperjuangkan hak terdakwa karena yang bersangkutan berasal dari kalangan ekonomi lemah sehingga tidak mampu membayar uang jasa. Begitulah sebagian gambaran wajah keadilan hingga hari ini. Kadangkala perlu banyak uang untuk mendapatkan sebuah keadilan yang sebenarnya merupakan hak bagi setiap orang, bahkan dengan uang keadilan bisa dibeli. Maka tidak heran ketika banyak orang yang bersalah namun bebas dari tuntutan karena kelihaian pengacaranya. Idealnya, tugas pengacara bukan berusaha bagaimana caranya agar kliennya bebas namun berusaha agar hak-hak klien tersebut tetap terjamin selama prosesi di hadapan meja hijau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Point penyidikan yang tidak terungkap dalam pengadilan itu adalah tidak ditemukannya sidik jari pada barang bukti kejahatan. Walaupun kasus ini sudah selesai disidangkan dan Haryanto sudah memulai kehidupan barunya dibalik terali besi, namun bagi Ali Mahalli detail kecil ini merupakan sebuah teka-teki yang menarik. Hal itu diungkapkan Ali ketika berbincang-bincang dengan adiknya yang masih SMA, Ian Khairiansyah di rumah kontrakan di mana mereka berdua tinggal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Kalau memang benar gelas yang menjadi barang bukti yang di gunakan dalam peracunan, harusnya kan ada sidik jari di sana ? Haryanto kan yang membuat minuman itu, tapi sama sekali tidak ada sidik jarinya di gelas itu. Aneh sekali kan ? jangan-jangan sebenarnya ini pembunuhan berencana,” kata Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Kalau melihat sikap Haryanto yang sangat koperatif, rasanya ini bukan pembunuhan terencana,” kata Ian menanggapi ucapan kakaknya dengan bermalas-malasan di sofa sambil membolak-balik halaman komik yang dibacanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Sebenarnya aku juga berfikir begitu. Apa lagi melihat Haryanto yang lugu itu rasanya tidak mungkin pembunuhan itu sudah direncanakannya. Hanya saja yang aneh bukan hanya sidik jari Haryanto yang tidak ada di kedua gelas itu, tetapi sidik jari dan bekas bibir Sarifah yang katanya meminum dari gelas itu pun tidak ditemukan. Selain itu gelas itu permukaannya benar-benar bersih tidak ada bekas apa pun,” kata Ali dengan nada meyakinkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Mendengar pernyataan kakaknya itu Ian segera saja meletakkan komiknya yang tadi ditekuninya ke meja. Rupanya hal tersebut sudah mengambil alih ketertarikan Ian dari keasyikannya membaca. Aneh juga jika sidikjari Sarifah yang meminum itu tidak ditemukan. Kalaupun Haryanto sedikit lebih pandai dia bisa saja memakai sarung tangan atau kain di tangannya agar sidik jarinya tidak menempel di gelas. Tetapi Sarifah apa wajar jika dia melakukan hal yang sama ? Sarifah memakai kain atau sarung tangan agar sidik jarinya tidakmenempel ? Padahal dia yang terbunuh. Toh seandainya memakai sarung tangan atau kain, bekas benda itu pasti tetap ada menempel di gelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Apa mungkin bahwa sebenarnya ada trik lain yang digunakan dalam peristiwa itu ? Kak, barang apa saja yang ditemukan di rumah Haryanto yang mengandung arsenik ?”tanya Ian dengan nada yang terlihat sangat tertarik dengan peristiwa itu. Kadang kejahatan yang sederhana justru lebih menarik dari sebuah kejahatan besar yang biasanya lebih mudah diperkirakan motifnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Entahlah. Hanya keris dan minuman dalam gelas itu yang diketahui mengandung arsenik,”kata Ali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ian kemudian termenung sebentar. Ali berdiri dan berjalan ke kamarnya. Tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa beberapa photo yang dibuat oleh kepolisian di TKP saat pengusutan perkara. Photo tentang kondisi mayat, photo lokasi kejadian, foto alat-alat dan perabotan rumah tangga Haryanto, photo dua gelas suplemen berarsenik yang masih ada dimeja kamar, photo keris yang digunakan untuk mengaduk air, dan beberapa photo lainnya. Photo-photo itu segera diserakkan oleh Ali ke meja dan Ian segera mengamati setiap gambar yang ada di sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Lho, Kak. Photo-photo ini seharusnya kan, jadi arsip Polisi kok kakak membawanya pulang,” kata Ian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Aku merasa tidak ditemukannya sidik jari itu sangat aneh, makanya aku kemudian menggandakan photo itu, barangkali ada sebuah petunjuk dalam gambar-gambar itu yang bisa aku pikirkan sambil santai dirumah. Di kantor kan banyak kertas photo jadi tinggal di<em>print</em> <em>out</em> saja”kata Ali menjelaskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Oh iya, Kak. Ditubuh korban apa ditemukan adanya luka ?”tanya Ian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Itu masalahnya. Sama sekali tidak ada luka ditubuh korban. Hanya ada bekas lebam yang membiru akibat tamparan yang keras seperti yang diakui Haryanto,” kata Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sekali lagi Ian mengamat-amati photo yang ada di meja itu satu persatu. Kali ini dia melakukan pengamatan lebih cermat. Hal itu terlihat dari raut mukanya yang nampak serius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Ah &#8230; begitu rupanya, “ kata Ian sambil meletakkan photo yang dipegangnya ke meja. Dari wajahnya jelas tersungging sebuah senyum kemenangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Kamu sudah tahu<span> </span>trik yang dipakai Haryanto,”tanya Ali. Bagaimanapun dia tidak bisa meremehkan adiknya yang memiliki otak cerdas itu. Beberapa kali Ian sudah membantunya sehingga berhasil memecahkan sebuah kasus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Kak. Ini bukan sebuah trik. Tetapi sebuah kebetulan saja. Racun yang diminum oleh Sarifah memang berasal dari gelas itu dan yang membuat minuman itu memang Haryanto sesuai pengakuannya,”kata Ian sambil tersenyum dan menyandarkan punggungnya ke sofa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Lalu kenapa sidik jari itu tidak menempel di gelas itu, minimal sidik jari Sarifah kan harus ada disana kalau memang benar dia minum dari gelas itu ?” tanya Ali keheranan dengan jawaban adiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Aku katakan itu sebuah kebetulan saja, Kak. Rasanya Haryanto tidak sepandai dugaan kakak sehingga bisa menyiapkan trick yang sempurna untuk menghindari hukuman yang lebih berat dengan menyederhanakan kasus. Sidik jari yang harusnya menempel di gelas itu secara kebetulan hilang dengan sendirinya”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Hilang dengan sendirinya ? Dengan kemampuan Haryanto yang katanya bisa ilmu ghaib itu ? Ah jangan bercanda kamu, Ryan,” Ali yang biasa memanggil adiknya dengan Ryan (nama lengkap Ian adalah Ian Khairiansyah, di Bandung dulu dia biasa di panggil Ryan dari kata ‘Khairiansyah’) itu berseru dengan intonasi sedikit jengkel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Kak, Perhatikan photo kedua gelas ini. Ada sedikit bekas genangan air di bawah kedua gelas yang minumannya masih tersisa itu. Lihat juga photo perabotan rumah tangga yang ini, dari sini kakak pasti sudah bisa menyimpulkan bagaimana caranya sidik jari itu menghilang dengan sendirinya,” kata Ian panjang lebar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Ryan. Penyakit kamu yang suka<span> </span>membuat orang penasaran itu ternyata belum sembuh juga,” komentar Ali dengan agak mendongkol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Kak, aku tidak bermaksud membuat kakak penasaran. Perhatikan bekas air di bawah ke dua gelas itu karena apa ? Tidak wajar bukan kalau gelas itu sebelumnya di cuci ? Bekas gelas yang di cuci sebelumnya tentu genangannya tidak seperti itu. Kemudian lihat ada kulkas di photo yang ini. Maka satu-satunya kesimpulan yang paling logis tentang bagaimana menghilangnya sidik jari itu sudah tentu karena minuman suplemen itu di beri es batu. Lagi pula wajar saja walaupun malam hari minum minuman yang memakai es. Aku juga termasuk orang yang suka minum es pada malam hari.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Jadi, menurut kamu, sidik jari atau bekas bibir yang harusnya menempel di gelas itu lenyap karena pengembunan yang terjadi di permukaan luar gelas. Ah logis juga ya. Kenapa sejak awal aku tidak berfikir seperti itu, ya ?” kata Ali sambil manggut-manggut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Ya, benar. Tapi aku rasa kakak cukup cerdas, setidaknya sudah membawa photo-photo itu untuk dipecahkan oleh ahlinya, “ kata Ian dengan bangga. “Air es yang dingin dalam gelas itu menyebabkan udara yang ada di sekitar gelas mengalami pengembunan. Embun itu terjadi akibat udara yang mengandung uap air mengalami pendinginan, bukan ? Sidik jari itu sebenarnya kan terbentuk oleh jejak keringat yang ada pada alur garis-garis lembut pada jari, maka ketika sidik jari atau bekas bibir itu menempel pada gelas dan kemudian permukaan gelas itu mengembun maka sidik jari atau bekas bibir itu dengan sendirinya terlarut dan terbawa aliran embun yang berkumpul dan mengalir ke bawah sehingga membentuk sedikit bekas genangan air. Aku yakin es yang dipakai juga lumayan banyak mengingat gelas yang dipakai juga berukuran jumbo, sehingga pengembunan itu berlangsung lama. Makanya bekas genangan air itu terbentuk di bawah gelas. Lagi pula kalau embunnya tidak banyak, bekas sidik jari itu tentu tidak hilang secara sempurna karena jejak keringat itu sebagian unsur penyusunnya mengandung minyak sehingga tidak mudah larut dengan air”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ali ikut tersenyum setelah mendengarkan penjelasan adiknya. Mengapa dia begitu penasaran dengan tidak adanya sidik jari dalam kasus itu karena pada masa pendidikannya di Akademi dahulu, penekanan untuk mencari sidik jari dan bekas-bekas lainnya yang kemungkinan berhubungan dengan sebuah peristiwa itu harus diutamakan karena bisa menjadi satu bagian terpenting bukti sebuah kejahatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sidik jari bisa membuktikan bahwa tersangka ada di tempat kejadian. Uniknya tidak ada sidik jari orang yang memiliki bentuk sama, bahkan orang yang di lahirkan kembar identik sekalipun. Metode pengenalan sidik jari ini, diperkenalkan oleh seorang polisi Inggris, Sir Edward Henry pada tahun 1901. Menurut Sir Edward ada delapan pola khusus yang ada pada sidik jari yaitu 2 tipe kurva datar, tipe lengkung datar, tipe lengkung segitiga, tipe spiral datar, tipe spiral pusat berkantung, tipe kurva ganda, dan tipe ‘acak’. Pengambilan sidik jari dari tempat kejadian perkara (TKP) biasanya di lakukan dengan bubuk bersih yang ditiupkan atau disapukan di atasnya. Ada juga yang memakai teknik lain dengan menggunakan uap lem super, semprotan kimia, dan bahkan menggunakan sinar laser.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto1.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto1.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto1.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto1.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/susiyanto1.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/susiyanto1.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/susiyanto1.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/susiyanto1.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto1.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto1.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto1.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto1.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto1.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto1.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=14&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-3-hilangnya-sidik-jari-pada-barang-bukti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fb83a6a70f37b6a71e21d1c0cf1421c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FILE 2: SEBUAH KEJAHATAN KECIL DI KELAS</title>
		<link>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-2-sebuah-kejahatan-kecil-di-kelas/</link>
		<comments>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-2-sebuah-kejahatan-kecil-di-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 04:16:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKSI IAN KHAIRIANSYAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto1.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Kejahatan ? Pagi itu Ian Khairiansyah begitu sampai di sekolah langsung menuju ke lapangan olah raga yang terletak agak jauh dari gedung, dimana kelasnya berada, namun masih berada dalam satu komplek. Dodi kemarin telah memberitahunya bahwa jam pertama hari itu adalah jadwal olah raga. Biasanya, kata Dodi, para siswa langsung memakai seragam dari rumah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=10&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><strong><span lang="IN">Sebuah Kejahatan ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Pagi itu Ian Khairiansyah begitu sampai di sekolah langsung menuju ke lapangan olah raga yang terletak agak jauh dari gedung, dimana kelasnya berada, namun masih berada dalam satu komplek.<span> </span>Dodi kemarin telah memberitahunya<span> </span>bahwa jam pertama hari itu adalah jadwal olah raga. Biasanya, kata Dodi, para siswa langsung memakai seragam dari rumah dan langsung menuju ke lapangan olah raga, walaupun tidak semua siswa bertindak begitu. Beberapa siswa tetap mampir dulu ke kelas menaruh tas atau berganti pakaian di sana.<span id="more-10"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Guru olah raga yang bernama Pak Rudi telah menunggu di lapangan. Sambil menunggu kedatangan siswa yang lain, beliau mengabsen murid-murid yang sudah hadir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>“Hmm…murid baru… ya ?”, Pak Rudi mengkonfirmasi.” Nama….?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ian Khairiansyah, Pak ,” Jawab Ian tegas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“I…Y…A…N…atau I…A…N ? Pakai Y nggak ?“</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“I…A…N,…Ian, Pak”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Segala sesuatu tampaknya berjalan lancar, demikian pikir Ian. Olah raga yang diikutinya pun adalah lempar lembing yang cukup disukainya. Beberapa cabang olah raga athletik yang lain seperti lari dan lompat jauh juga cukup menarik minatnya. Ian cenderung tidak suka olah raga yang memakai bola. Mungkin satu-satunya olah raga yang memakai bola yang bisa dilakukannya hanya permainan bola bekel atau kelereng,…ah itu pun tidak sampai pada derajad yang disebut ahli. Payah juga, pikir Ian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Selesai olah raga murid-murid langsung menuju ke ruang ganti. Sebagian ada yang langsung masuk ke kelas, menuju ke kamar mandi, atau bahkan langsung menuju ke kantin tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ian”, panggil Si Gendut Dodi ketika berada di kelas. Anak itu berjalan menuju ke arah Ian yang sedang merapikan kaos olah raganya dan segera memasukkannya ke dalam tas. ” Kamu sudah bayar kaos kelas ? Rencananya kelas kita ini mau membuat kaos identitas kelas lho..tuh bayarnya sama Inneka, bendahara kelas, yang sedang menulis itu .” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Belum tuh, memangnya berapa bayarnya ?”. kata Ian sambil melihat arah yang ditunjuk Dodi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Empat puluh ribu&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ian merasa sebaiknya dia segera membayar sekarang saja mumpung uang sakunya sedang berlebih. Dia kemudian dengan bergegas menghampiri gadis manis bermata sipit mirip <em>chinesse</em> yang sedang menulis dimejanya di pojok kiri depan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Maaf menganggu sebentar. Inneka, ya ?”. Katanya sambil tersenyum manis </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Eh…iya. Ian ada apa… ?”. Gadis itu tampak gugup lalu dengan segera dia<span> </span>menutup bukunya. Diliriknya Ian lekat-lekat. Senyum yang merekah dari bibirnya menampakkan lesung pipit dari pipinya yang merona kemerah-merahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Lagi nyalin PR, yah ? Sebaiknya kan dikerjakan di rumah. Ini … aku mau bayar kaos kelas,” Kata Ian sambil mengulurkan empat lembar uang puluhan ribu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Inneka sempat salah tingkah sesaat, karena ketahuan nyalin PR di kelas kali. Namun kemudian dia segera membuka tasnya dan mengeluarkan buku tebal yang tengahnya dibatasi dengan amplop. Diterimanya uang Ian dan segera dicatat di buku itu. Lalu uang itu akan dia masukkan ke dalam amplop yang menandai buku …entah karena apa tiba-tiba raut wajahnya menjadi pucat pasi dan kekagetannya agaknya tidak bisa disembunyikan. “Tidak mungkin”. Teriaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Kontan saja Ian yang ada disampingnya terheran heran,”Ada apa ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Uangnya…uang pembayaran yang kusimpan diamplop ini hilang, rasanya tadi pagi masih ada, aku sempat memeriksanya. Bagaimana ini…?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Inneka sibuk mengaduk-aduk isi tasnya. Dewi yang duduk di samping Inneka pun tak kalah ribet dengannya, ikut membantu mencarikan, hanya saja cuap-cuap cewek centil satu itu juga cukup ribut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Berapa anak yang mendengar kegaduhan itu, segera mendekat dan bertanya-tanya. Ian segera berjongkok ke bawah meja Inneka. Inneka sempat terkejut dengan tindakan Ian itu, disangkanya Ian telah berlaku kurang ajar. Namun tampaknya anak muda itu hanya memperhatikan lantai, matanya tidak lepas dari lantai itu seolah-olah mencermati sesuatu yang menarik di sana. Dan memang dia memperhatikan ada beberapa jejak sepatu yang sebelumnya basah dan mengering di sana. Sebuah petunjuk berharga, pikirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ada apa Inneka ?”. Seorang siswa bertubuh athletis mendekati Inneka yang sudah berdiri di samping mejanya sambil mengaduk-aduk tasnya, mencari barangkali uangnya jatuh ke dalam tas. Inneka tidak menjawab apa-apa, tidak dengar atau karena memang wajahnya terlihat cemas nampak memikirkan sesuatu yang lain. Siswa bertubuh athletis itu kemudian bertanya pada siswa lelaki tinggi kurus yang sebenarnya juga baru datang tidak lama sebelum dirinya. “ Agus apa yang terjadi sebenarnya ? ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Erik… Inneka uangnya hilang..uang pembayaran kaos kelas…,” Jawab siswa kerempeng, bernama Agus, itu menjelaskan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Inneka, “ kata siswa athletis yang bernama Erik itu agak keras sambil menatap Inneka<span> </span>yang nampak cemas dan bingung. “Berapa yang hilang ? Jangan-jangan ketinggalan dirumah ? Tasmu sudah kamu periksa ? Hei kalian semua ini bukan tontonan tahu ? ayo minggir.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Erik meminta atau lebih tepatnya bernada memerintah teman-temannya untuk sedikit menjauh dari meja Inneka. Teman-temannya di kelas itu mundur menjauhi meja Inneka, sementara Erik justru sama sekali tidak beranjak dari sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Nggak mungkin amplopnya masih ada. Tadi pagi jam 7.05 sesampainya aku di sekolah, Dewi sempet bayar dan uang itu masih ada di amplop. Tasku sudah kuperiksa. Semuanya sekitar …sebentar…Rp 840.000,00 baru 21 anak yang membayar. Sedang Ian baru saja membayarnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Bener kok. Aku tadi pagi bareng Inneka dan bayar sama dia. Dan aku lihat uang itu ada masih di dalam amplop.” Dewi menguatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Baiklah… kalau begitu. Aku pastikan telah terjadi pencurian di kelas kita. Teman-teman aku sebagai ketua kelas tentunya tidak akan tinggal diam, ..teman-teman untuk sementara agak menjauh dari meja Inneka biar aku bisa sedikit menggunakan sel-sel kelabu dalam otakku.” Suara Erik terdengar angkuh, menirukan ucapan khas Hercule Poirot, detektif terkenal ciptaan Agatha Christie.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Huh…sok sekali dia. Paling-paling cari perhatiannya Inneka.” Gerutu Dewi nyaris tak terdengar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Erik mondar-mandir di sekitar meja, Inneka.” Tadi pagi kita semua olah raga dilapangan. Itu fakta pertama. Ada 3 murid yang tidak masuk hari ini ijinnya ada didepan yaitu Arnowo, Singgih, dan Irwan. Kalau pencuri itu dari kelas kita berarti mereka tidak masuk dalam daftar tersangka. Kejadian perkara tidak mungkin setelah olah raga karena pelaku sangat berpotensi untuk ketahuan karena beberapa murid yang setelah olah raga biasanya langsung ke kelas. Baiklah kita anggap semua siswa yang ada disini berpeluang menjadi tersangka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Erik memulai pengadilan dengan gayanya yang kadang terlihat dibuat-buat untuk mengesankan bahwa dia<span> </span>telah mendapatkan sejumlah petunjuk awal. Lanjutnya,“ Siswa kelas lain agaknya tidak memungkinkan karena mereka tentunya sedang mengikuti pelajaran di kelas masing-masing. Sekolah kita terkenal dengan kedisiplinannya. Jadi, daftar tersangka kita tentu saja bisa lebih dikerucutkan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kawan,” Sela Ian. ” Agaknya jejak sepatu yang ada di bawah meja Inneka perlu kamu perhatikan karena…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Hei ! Jangan menganggu sel-sel kelabu di otakku yang sedang berpikir,”Bentak Erik agak keras. “ Baiklah… kita lanjutkan…sampai dimana tadi…eh iya….daftar tersangka bisa kita fokuskan. Ketika berangkat olah raga tadi pagi dari rumah ada yang langsung menuju ke lapangan tetapi ada pula yang mampir ke kelas dulu. tidak ada terlambat datang ke lapangan saat olah raga, karena sudah tentu takut dengan Pak Rudi yang terkenal <em>killer</em>. Dengan demikian, mereka yang mampir dulu ke kelas itulah yang masuk daftar tersangka,” Kata Erik sambil senyum kemenangan menghiasi wajahnya yang kokoh. ” Oh, ya. Sekretaris Sigid, hubungi Bu Andini, wali kelas kita . Beliau perlu tahu tentang permasalahan ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span><span> </span>Melalui serangkaian investigasi yang dilakukan Erik akhirnya terkumpul 6 nama siswa yang tadi pagi sempat mampir di kelas sebelum menuju ke lapangan. Mereka adalah Inneka, Dewi, Andri, Ardian, Agus, dan Malik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">*****</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Bel masuk terdengar saat itu. Bu Andini masuk ke kelas bersama Sigid. Beliau berdiri di depan kelas menghadap kepada para siswa. Setelah membenahi posisi kaca matanya, beliau kemudian berbicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Anak-anak,” Sapa Bu Andini.” Tadi Sigid sudah bercerita banyak kepada Ibu tentang kehilangan uang di kelas ini. Ibu harap peristiwa memalukan ini menjadi rahasia kita bersama untuk sementara waktu. Seandainya benar yang mengambil uang itu adalah siswa kelas ini, ibu berharap dengan sangat agar dengan penuh kesadaran dan kejujuran mau mengembalikan uang itu. Kalau memang uang itu benar-benar sangat dibutuhkan barangkali ibu bisa sedikit membantu. Ibu akan menunggu sampai besok pagi, serahkan saja lewat ibu, siapa pun yang mengambilnya. Ibu berjanji akan merahasiakan nama kalian. Anak-anakku bukankah malu apabila nama kelas kita tercoreng akibat peristiwa ini. Kasihan juga Inneka kan ? Jam pelajaran kali ini sudah saya minta dari Pak Burhan…jam ini pelajaran Fisika kan…? …Untuk dikosongkan. Erik kamu pimpin teman-teman kamu untuk menyelesaikan masalah ini. Ibu percaya padamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>”Baik, Bu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Hari itu Erik memimpin para siswa kelas II. 1 untuk mencari pemecahan bagi permasalahan kelas itu. Atas usulan salah satu siswa yang lantas disepakati oleh semua siswa, kemudian dilakukan penggeledahan. Semua barang yang ada di dalam tas siswa dikeluarkan, demikian pula beberapa tempat yang dianggap dapat digunakan untuk menyembunyikan benda-benda yang hilang, namun upaya tersebut tidak membawa hasil apa pun. Erik lantas mengambil inisiatif pribadinya untuk melakukan investigasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Nah, teman-teman kita lanjutkan dengan langkah berikutnya. Saat ini telah ada 6 orang yang akan kita mintai keterangannya karena tadi pagi sempat mampir ke kelas dulu sebelum ke lapangan olah raga. Keenam orang itu adalah Andri, Ardian, Inneka, Dewi, Agus, dan Malik. Inneka dan Dewi tentu saja tidak masuk dalam daftar list yang akan kita mintai keterangan karena mereka saksi terakhir pada saat uang itu masih ada. Maka dapat lebih kita fokuskan penyidikan kita terhadap keempat orang sisanya. Meja guru di depan akan kumanfaatkan sebagai tempat investigasi, silakan teman-teman yang lain mundur ke belakang untuk lebih memperlancar proses yang berjalan. Keempat orang yang tidak perlu saya sebutkan lagi, silakan bersiap untuk maju ke depan satu persatu. Sigid saya minta untuk membantu saya membuat catatan tentang jalannya pemeriksaan. Silakan Andri untuk maju terlebih dahulu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tunggu, Rik,” Sergah Ian.” Kamu tidak bisa menfokuskan pengamatanmu pada beberapa tersangka hanya dengan argumentasi seperti itu. Kita belum mendaptkan petunjuk apa-apa dalam hal ini. Ingat setiap orang bisa saja melakukan pencurian itu…setiap orang punya peluang yang sama. Bisa saja pencurian terjadi pasca olah raga atau waktu lainnya, kan ?. kalu pengamatan itu langsung dengan pemfokusan sepereti itu, bias saja kamu akanmendapatkan hasil yang tidak valid”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sudahlah, “Erik menimpali.” Sebaiknya kamu tidak menggangguku. Apa yang aku lakukan sudah sesuai dengan langkah apa yang seharusnya kuambil. Aku memiliki methode tersendiri dalam hal ini. Dan aku yakin akan berhasil. ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Pertimbangkan sekali lagi, Rick,”Ian kembali berkomentar.” Kamu saat ini seperi sedang mengambil sample dari sebuah populasi yang besar. Bias saja sample itu tidak cukup representative terhadap populasi. Dalam penelitian ilmiah hal itu bias saja terjadi. Masalahnya saat ini kamu harus menetukan kebenaran yang menyangkut reputasi seseorang. Ingat, Rick. Hanya ada satu kebenaran yang pasti dalam masalah ini, maka kamu tidak boleh sembarangan dalam hal ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Maksudmu, aku harus memeriksa alibi semua orang, begitu …?” Kata Erik bernada Tanya. Dia lantas menggeleng-geleng sinis. Siswa dikelas itu agaknya juga enggan dilibatkan dalam tetek bengek investigasi terlihat mendfukung sang ketua. Toh, sudah ada beberapa orang yang akan menjadi tersangka buat apa ikut repot-repot diperiksa, pikir mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Anak baru yang sok aksi,” Runtuk Erik hampir yang lebih mirip gumaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Sementara yang siswa yang lain mundur ke belakang sesuai instruksi sang ketua kelas. Ian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, agak kecewa juga niat baiknya tidak di perhatikan. Lantas dia berjalan ke meja Inneka dan Dodi mengikuti di belakangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>” Dod, lihat jejak sepatu itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Jejak sepatu itu rasa-rasanya dari jejak sol sepatu Trendy. Ah…sepatu jenis itu sih tidak bisa memberikan petunjuk apa-apa. Lagian ada beberapa jejak sepatu yang ada di sana, tentunya sulit mendeteksi yang mana sepatu pelaku pencurian dan siswa yang memakai sepatu jenis ini di kelas kita bukan hanya satu atau dua orang saja, kan ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Coba perhatikan lebih cermat bagian badan sepatu yang sebelah kanan, Dod. Di bagian ujung sepatu agak ke bawah sedikit ada cekungan memanjang seperti bekas kikisan sementara sepatu bagian kiri tidak ada cekungan seperti itu. Ini bisa menjadi sebuah petunjuk yang berharga. Perhatikan juga,… jejak tapak sepatu ini sebelumnya berasal dari bekas tapak sepatu yang basah dan setelah itu jejaknya mengering. Sementara jejak-jejak yang lain tidak seperti itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tapi beberapi temen tadi sempat ke kamar mandi, kan ? Jadi wajar dong, kalau jejak sepatu mereka seperti bekas air yang mengering.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Lihat bedanya kawan. Konsentrasi tanah yang ada pada masing-masing jejak memiliki perbedaan, kan ?. Tempat ini tadi pagi belum sempat di sapu tapi apabila dicermati jejak itu membawa konsentrasi tanah yang berbeda dari jejak sepatu yang basah akibat ke kamar mandi kemudian menginjak debu. Bandingkan dengan jejak sepatu Dewi…yang ini…dia tadi sempat ke kamar mandi juga.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Iya…benar. Warna jenis tanahnya sedikit berbeda. “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Nah, begitu dong. Watson !” Ian coba mengejek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Enak saja, memangnya kamu Sherlock Holmes,” Gerutu Dodi tidak terima.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Dintara keempat orang yang di periksa Erik…sebentar. Kayaknya hanya Ardian dan Malik yang memakai sepatu merk Trendy. Ian, aku ke sana dulu yach…” Dodi beranjak melangkah meninggalkan Ian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sobat. Kuperingatkan hati-hati dengan kesalahan mengambil kesimpulan deduksi,” Ujar Ian agak lantang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">INVESTIGASI PERTAMA : ANDRI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Apa-apaan ini aku bukan pencuri…seenaknya saja diinterogasi,” Teriak Andri lantang<span> </span>terbawa emosi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Tubuh Andri yang tinggi besar itu nampak bergetar pelan. Mukanya memerah akibat menahan marah. Sementara kepalan tangan berlengan besar itu tampak mengeras seolah siap untuk diadu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tenang, kawan,” Erik membuka tangannya.” Anggap saja sekedar formalitas…<em>well</em>, <em>Monsieur. Tout de meme,</em> anda tetap harus mengikuti pemeriksaan ini. Sekarang kita mulai…ah, kemarahan kadang-kadang justru lebih banyak merugikan, orang bijak tentu akan berpikir dan bersikap secara bijak pula. “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Huh…,” Dengus Andri. Wajahnya memerah, namun sesaat kemudian dengan cara yang sulit diduga emosinya telah menurun. Pengendalian diri yang luar biasa. Terlalu berlebihan memang…. Dia melengos kesamping sehingga Erik seolah sedang berbicara dengan bahu anak itu. Dada Andri yang bidang turun naik bersamaan nafasnya yang mulai teratur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Bisa kamu ceritakan jam berapa kamu sampai ke kelas ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kira-kira jam 7.15. yah,… benar<strong> </strong>aku sempat melirik ke jam dinding kelas.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“07.15…hmm. Waktu yang sangat memungkinkan … dari kelas ke lapangan hanya butuh waktu kurang dari 5 menit. Setidaknya masih ada waktu sisa sekitar 10 menit. Masih sangat memungkinkan untuk…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Apa maksudmu,”Suara Andri terdengar seperti auman. Kemarahan kembali nampak dari raut mukanya yang memerah. “ Tidak lama setelah aku masuk ke kelas Malik datang trus aku segera ke kamar mandi ganti kaos olah raga. Kebetulan kaosku masih agak basah jadi tidak bisa kupakai dari rumah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“<em>Well …well</em><strong>. </strong>Selain Malik siapa saja yang kira-kira melihat kamu. Bisa saja kalian berkomplot…,”<strong> <span> </span></strong>Agaknya<strong> </strong>Erik terbawa suasana yang memanas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Cari musuh kamu….!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Andri berdiri dan memajukan tubuhnya. Kepalan tangannya hampir saja mengenai Erik, untung saja Erik sempat bergerak ke belakang dan telapak tangannya sempat menyambut tangan yang mencari sasaran itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Baik…baik tuan banteng…pemeriksaan agaknya butuh suasana yang lebih kondusif…mungkin bisa kita lanjutkan lain kali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">INVESTIGASI KEDUA : ARDIAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“He…he..he. tampaknya penyakit cari mukamu kambuh lagi, Rik,” Belum lagi duduk di depan Erik, Ardian sudah melontarkan ejekannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ardian yang berparas cukup itu tampan memandang sinis ke arah Erik. Sambil membetulkan letak kaca mata yang menambah kesan menarik di wajahnya yang ganteng itu, Ardian tersenyum mengejek.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ayolah Mr. Moriarty, kita mulai permainan analisis kita,” tanggapan Erik sambil memandang Ardian dengan tatapan yang tidak kalah sinisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Alah…kamu nampaknya terlalu keranjingan membaca Sherlock Holmes…memangnya dengan begini Si Inneka akan mau sama kamu…fu…fuu…fu langkahi dulu kepalan tangan Ardian. Banci macam kamu bisanya Cuma cari perhatian dan mengemis cinta. Huh…kasihan deh lu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh ya. Jam berapa kamu sampai di kelas tadi pagi ?” Erik tidak mau melanjutkan celotehan Ardian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Iya deh. Mr. Kolonel Moran Sebastian,” Ardian kembali mengejek, tampaknya hanya dalam investigasi ini, kedua musuh terberat Sherlock Holmes, Prof. Moriarty dan Kolonel Moran Sebastian bisa bertemu. Selanjutnya Ardian mulai kelihatan serius. “ Aku datang kira-kira jam 7.20 ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Kamu sempat bertemu seseorang ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Tidak. Tapi aku sempat bertemu dengan tukang kebun yang mulai memasang pipa selang untuk menyirami halaman.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ah…sayang. Alibi yang kamu miliki tidak terlalu meyakinkan, Prof. Moriarty. Kau butuh alasan yang lebih <em>perfect</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kamu harusnya kan tahu. Terlalu sempurna sebuah alibi justru semakin mencurigakan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Seandainya pencurinya bukan kamu. Siapa diantara mereka bertiga yang kamu curigai ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ardian yang tadi kelihatan sinis, sekarang justru tertawa renyah, seolah merasa geli mendengar pertanyaan itu. “Pertanyaanmu sama bodohnya dengan otak kerbau paling blo’on. Seganteng-gantengnya orang ganteng kayak Tuan Ardian ini, mana mau main tuduh sembarangan tanpa bukti. Itu bisa menjatuhkan harga diriku, tahu ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tidak. Kamu harus menjawabnya,” Tegas Erik.” Dari pertanyaan itu, secara psikologis akan terdeteksi siapa sebenarnya pelaku sebuah kasus”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku,” Sorot mata Ardian tajam memandang ke arah Erik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ah…agaknya sulit diajak kerja sama. Hati-hati …Tuan Jack The Ripper, hal itu bisa memperburuk posisi anda ”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Selanjutnya terjadi adu argumentasi tentang berbagai hal berkaitan lika-liku detektif. Debat kusir, mungkin merupakan salah satu cara yang dianggap oleh mereka mampu menajamkan imajinasi….Adu analisis….argumentasi yang mematikan, demikian beberapa lontaran kata-kata yang sempat terekam dari perang pemikiran yang mereka ciptakan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">INVESTIGASI KETIGA : AGUS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Siswa bertubuh tinggi dan kurus berdiri di hadapan Erik. Erik lantas mempersilakan dia duduk. Anak itu kemudian menduduki kursinya dengan santai. Tipe anak yang tidak banyak bicara, kata Erik dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Gus, aku rasa kamu akan bersedia membantuku untuk memberikan data yang bias jadi akan sangat membantu kelancaran penyelidikan ini,” Kata Erik sambil memandangi sosok Agus yang kalem di depannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Akan kubantu sebisaku. Aib kelas ini aibku juga.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Bagus. Nah seperti yang lain, kamu datang jam berapa ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ehm…entahlah aku lupa. Tapi sempat melihat tukang kebun membawa selang lewat koridor kelas kita”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Dengan kata lain sekitar jam 7.20. halaman disirami sekitar waktu-waktu itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Yach mungkin sekitar jam itu..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Kamu tidak bertemu Ardian atau Andri ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Aku ketemu mereka berdua di lapangan. Aku dating lebih duluan dari Ardian. Tapi kalau dengan Andri aku lupa duluan dia atau aku”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Kalau begitu, Gus”, tambah Erik.” Mungkin kamu bisa menceritakan aktivitas yang kamu lakukan antara kedatanganmu sampai kamu tiba di lapangan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Seingatku…hmm…setelah di kelas. Aku lalu keluar dan langsung ke lapangan. Oh tidak,…aku sempat mampir sebentar ke ruang II.4 melihat Arman sudah datang belum, karena aku mau menegaskan janjinya ke rumahku siang nanti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Di kelas II.4 kamu ketemu siapa ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Saat itu ada beberapa orang yang sedang berkerumun tapi mereka tidak melihatku karena keasyikan ngobrol. Aku juga hanya sepintas saja melihat mereka. Saat itu Arman belum datang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>“Ah. Untuk saat ini kurasa cukup. Thanks atas informasinya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Selepas kepergian Agus meninggalkan tempat itu Erik bergumam kepada Sigid yang sejak awal penyelidikan menulis semua keterangan yang didapatkan,” Sangat kooperatif. Sayang sekali tanpa saksi….eh tunggu. Tidak melakukan apa-apa bisa sama berartinya dengan melakukan sesuatu…kerumunan itu maksudku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">INVESTIGASI KEEMPAT : MALIK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Rik, kalau you bisa mecahin kasus ini, aku jamin deh. Jangankan Inneka, mak Lampir sama Nyai Blorong pun akan jatuh cinta sama kamu, deh,” Sindir Malik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ah…hati orang siapa yang tahu. Lagi pula rasanya aku ini termasuk cerdas dalam memilih yang terbaik. Manusia hidup memiliki nama, julukan bagus dan tenarnya nama adalah simbol kebaikan jiwa dan parameter keberhasilan hidup. Apa salahnya punya sedikit nama tenar dan disukai wanita. Asal bukan menjadi tujuan utama”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span lang="IN">“Munafik, lu”, Umpat Malik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Erik memandangi Malik dengan seksama. Malik justru mengalihkan matanya kea rah lain. Sebenarnya Erik ingin sekali membalas sindiran Malik dan membela diri lebih jauh, namun sejurus kemudian niat itu diurungkannya. Rasa-rasanya ada hal lain harus lebih diutamakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Oh ya. Sampai di kelas jam berapa kamu, Lik ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Jam 7.10 menit.” Jawab Malik ketus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ah. Mana mungkin. Kamu sempat ketemu Andri kan ? Dia datang jam 7.15. padahal dia datang lebih dulu dari kamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“kamu itu nanya apa mau ngajak berkelahi. Bisa saja Andri yang bohongkan ? Aku bahkan sempat melihat arloji karena nggak mau jadi korban Mr. Rudi The Killer itu. Aku yakinkan jam 7.10 menit”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Oh, ya”, Kata Erik perlahan.” Sekarang, arlojimu jam berapa ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“10.37 tepat”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Erik menatap jam yang selalu setia menepati dinding di bagian belakang kelas itu. Tepat jam 10.37 sebagaimana arloji Malik.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tentu saja sama, Bung”, Malik berbicara penuh kemenangan.” Aku memakai jam kelas ini sebagai patokan arlojiku “.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Baik,” Erik kembali tenang.” Taruh kata kamu sampai di kelas ketemu sama Andri. Apa yang kamu lakukan selanjutnya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Aku ketemu Andri di depan pintu ketika dia keluar dari kelas. Kayaknya dia pergi ke kamar mandi …mungkin. Kemudian aku melemparkan tasku tepat jatuh di mejaku. Mejaku …kamu tahu kan …dekat pintu jadi mudah untuk melemparkan tas dari luar pintu. Aku terus saja ke lapangan setelah itu “.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kira-kira ada saksi nggak ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ya Andri itu,” tegas Malik. “ Sumpah deh…habis itu aku melempar tas dari luar pintu terus langsung ke lapangan “.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Sayang…andaikan dengan sumpah kamu bisa jadi batu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Yah…terserah kamu saja deh..,” gerutu Malik kesal karena merasa keterangannya tidak dipercayai oleh Erik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Setelah pemeriksaan terhadap Malik selesai, Erik termangu. Dengan suara yang mirip gumaman, dia memandang pada Sigid yang duduk di sampingnya. “ Ada kejanggalan dalam pengakuan Malik jika dikroscek dengan pengakuan Andri. Alibi keduanya seimbang, tidak terlalu kuat untuk mengelak dari tuduhan. Ada kontradiksi waktu, namun keduanya yakin dengan pendapat masing-masing. Benar, waktu rasanya menjadi faktor yang sangat penting dalam measalah ini, karena setiap anak pada hari ini sudah tentu sangat memperhatikan waktu karena alasannya sangat jelas. Mereka tidak mau terlibat urusan dengan Pak Rudi yang galak hanya gara-gara terlambat datang saat olah raga “.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Lalu, kesimpulanmu bagaimana, Rik ?” tanya Sigid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>Erik menggeliat di kursinya lantas meregangkan kedua tangannya ke atas.” Yah, &#8230; bisa jadi salah satu pengakuan itu adalah kebohongan. Kemungkinan kedua pengakuan itu benar, agaknya sangat kecil. Itu pun harus dengan trik ‘menyiasati waktu’. Tapi jika salah satu dari mereka berbohong, aneh sekali ‘kan … mereka punya alibi tapi pada saat yang sama salah satu dari mereka mencoba membuat alibinya tidak kuat dengan berbohong masalah waktu. Lantas untuk apa ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">KESAKSIAN INNEKA DAN DEWI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"><span> </span></span></strong><span lang="IN">“In…tadi pagi kamu dan Dewi sampai di kelas jam berapa, sih …? Benar<span> </span>jam 7.05 . Wuiih …rajin banget…” Erik berbicara sambil memandangi wajak Inneka yang tampak masih pucat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Bener kok,” jawab Inneka pendek dan datar dengan suaranya terdengar lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Kamu yakin uang itu masih ada saat itu ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Tentu saja yakin,” sekali lagi jawab Inneka pendek. Agaknya belum merasa nyaman dengan berbagai pertanyaan tentang masalah itu. Sampai kapan aku akan terus menjawab setiap orang dengan pertanyaan-pertanyan yang sama, keluhnya dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Agaknya Erik dapat menangkap gelagat yang ada. Tapi dia justru mencoba memberikan simpati atas nasib yang menimpa gadis di depannya itu. “ Inneka terus terang aku bertanya bukan untuk menambah kekalutanmu. Aku merasa ikut bertanggung jawab atas masalah ini, selaku ketua kelas tentunya. Aku bisa meraba bagaiman perasaanmu saat ini. Kehilangan uang dalam jumlah yang tidak kecil dan bukan uang kita sendiri lagi … tentu saja bukan permasalahan sederhana. Aku hanya ingin masalah ini segera teratasi dan selanjutnya suasana kelas kita segera kembali seperti semula. Aku takut hal ini, kalau berlarut-larut akan menimbulkan rasa saling curiga dan tidak tenang di kelas kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Whoaa… tuan ketua kelas bijaksana sekali,” dewi yang sejak tadi diam mendampingi mereka menimpali setelah mendengar ceramah Erik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Dew…bukan saatnya bercanda…’” seru Erik dengan perasaan agak kesal. Sementara Dewi mengangkat kedua bahunya dan kemudian menatap Inneka yang sedang tertunduk lesu. Inneka, bagi Dewi, adalah sahabat yang sangat penuh perhatian, sering membantu, dan suka mengalah. Namun kali ini, dalam suasana kehilangan ini, Inneka tampak seperti sosok yang lain dari biasanya. Sosok yang selalu ceria. Inneka tampak cemas dan seolah hanya sedang memikirkan dirinya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>“Sorry, Rik. Sepertinya aku lagi bingung banget jadi tadi mungkin aku agak…,” terlihat penyesalan di wajah Inneka ketika menyadari bahwa dia sebelumnya sudah bersikap acuh tak acuh terhadap Erik yang coba membantunya.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Aku cukup bisa mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, sekarang ceritakan saja apa yang terjadi tadi pagi. Setidaknya aku adalah orang yang tepat untuk diajak berbagi cerita, mungkin aku bias membantumu nanti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Baiklah. Terima kasih sebelumnya, Rik. Inneka menarik napas panjang, seolah hendak mengganti isi rongga dadanya yang disesaki kekalutan dengan udara segar yang dihisapnya. “ tadi pagi setelah Dewi membayar. Uangnya, langsung aku masukkan ke amplop. Kebetulan uang dewi Rp 50.000,00. Sekalian kembaliannya aku ambilkan dari amplop itu. Jadi aku sangat yakin uang itu masih ada saat itu karena aku sempat membuka amplop itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Benar kok …aku juga sempat lihat uang itu masih ada diamplop,” Dewi menimpali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Keterangan Dewi itu tentu saja menguatkan bahwa uangtersebuat belum hilang tadi pagi. Erik merasa penyelidikannya akan lebih bias difokuskan waktunya, dimulai setelah pukul 7.05 yaitu waktu terakhir uang tersebut terlihat oleh Inneka mau pun dewi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Kalau begitu, kamu tenag saja In,” ucapan Erik terasa diberi tekanan untuk meyakinkan kedua orang di depannya. “ pasti uang itu akan segera ditemukan atau setidaknya kita bisa tahu biang kerok masalah ini. Aku tidak akan tinggal diam, percayalah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dewi mencibir. “Memangnya, kamu mau melakukan apa, Rik ?”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">ERIK DAN DODI TUKAR PENDAPAT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Jam dinding di kelas menunjukkan angka 11. 45. Bell yang menandakan jam istirahat kedua terdengar meraung disambut gembira oleh sebagian anak-anak yang telah sejak pagi berkutat dengan segala macam tetek bengek pelajaran dan mendengarkan ceramah guru-guru mereka di depan kelas. Ian berjalan ke meja belakang menuju ke tempat dimana, Dodi berada. Dodi sendiri sudah bangkit hendak meninggalkan tempat duduknya. Dari wajah Dodi, Ian bisa tahu agaknya Dodi memiliki suatu urusan. Wajah gemuk itu mencerminkan rasa penasaran akan sesuatu hal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Hei, Dod, “ sapa Ian.” Aku tahu kamu ada urusan sekarang. Maaf bisakah kamu tunda sebentar urusanmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Memangnya ada apa, sih ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Temani aku ke parkiran, dong. <em>Please</em>. Penting banget nich.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Maaf deh, Ian. Sendiri saja bagaimana ?,” agaknya Dodi sendiri kurang enak buat menolak permintaan sahabat barunya itu, tapi dia merasa ada sesuatu yang harus segera diselesikannya. “ Kamu sudah tahu kan parkirannya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Tentu saja aku tahu “ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ian. Sorry banget, ya,” kata Dodi. Dari wajahnya nampak ada sebuah penyesalan atau rasa tidak nyaman karena menolak permintaan Ian. “ terus terang aku penasaran, nich sama hilangnya uang pembayaran kaos kita. Aku mau ketemu Erik dulu kulihat dia tadi untuk melihat hasil penyelidikannya. Sekali lagi maaf ya, kawan. Aku harus segera menyusul Erik ke taman. “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ian menggeleng kecewa. Walaupun ia tergolong anak yang cepat akrab dengan teman-teman barunya, tetapi, menurut Ian sendiri, agaknya selama dua hari ini belum ada yang seakrab Dodi. Ditepisnya rasa kecewa itu dalam hatinya, lalu dia melangkah menuju ke tempat parkir. Hanya dalam waktu sekejap saja, Ian telah tenggelam dalam keakraban dengan penjaga parkir yang ada di sana.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Rik, “ tegur Dodi ketika sampai di meja taman sekolah. Dilihatnya Erik sedang termenung sambil sesekali mencoret-coret kertas yang ada ditangannya. “ Bagaimana perkembangannya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Erik paham apa yang diinginkan oleh Dodi, namun sepertinya dia sedang enggan bersuara. Disodorkannya coretan-coretan di kertas yang dipegangnya pada Dodi, sedang dia sendiri kembali termenung membisu seperti semula. Dodi mencermati tulisan yang ada di kertas penuh coretan itu. Dia membaca perlahan-lahan tulisan Erik &#8211; seadanya dan tidak bisa disebut tulisan yang indah – sebuah catatan kronologis hasil penyelidikan. Isi catatan Erik tersebut antara lain adalah sebagai berikut : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-63pt;"><strong><span lang="IN">7. 05</span></strong><span lang="IN">………terakhir kali Inneka dan Dewi melihat uang pembayaran kaos. Maka bisa dipastikan sebagai titik awal penyelidikan waktu untuk memeriksa alibi lebih lanjut. Keterangan Inneka tentang hilangnya uang itu diperkuat dengan kesaksian Dewi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-63pt;"><strong><span lang="IN">7.10</span></strong><span lang="IN">………..Malik tiba di kelas (keterangan meragukan, alibi tidak cukup kuat). Malik sempat ketemu Andri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-63pt;"><strong><span lang="IN">7.15</span></strong><span lang="IN"> ……….kedatangan Andri. Sempat ketemu Malik ketika keluar dari kelas (keterangan masalah waktu harus dikroscek dengan dengan pengakuan Malik)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-63pt;"><strong><span lang="IN">Sebelum 7.20</span></strong><span lang="IN"> Agus masuk kelas. Tidak punya alibi sama sekali. Anak kelas II.4 perlu dikroscek. Dengan demikian Agus akan memiliki alibi, jika betul dia memberikan keterangan yang<span> </span>benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-63pt;"><strong><span lang="IN">7.20</span></strong><span lang="IN">……….Ardian masuk ke kelas. Alibi sempat ketemu dengan tukang kebun-tidak terlalu kuat untuk menjadi sebuah alibi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span lang="IN">Catatan: <em>Malik dan Andri memiliki alibi yang saling menguatkan, walaupun secara materi alibi tersebut tidak terlalu kuat. Waktu sebenarnya dari alibi mereka yang saling kontra harus segera di kroscek.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ada informasi lain, Rik ?” tanya Dodi membuyarkan lamunan Erik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ah. Jangan ganggu aku, dong.” Erik agak mendongkol karena keasyikannya berfikir merasa diusik dengan pertanyaan yang dianggapnya hanya sekedar sebagai gangguan yang tidak menguntungkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ayolah, Rik. Aku ada informasi baru untukmu. Aku yakin informasi ini akan berguna untuk penyelidikanmu.dan aku yakin kamu belum mengamatinya”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Mata Erik tiba-tiba bersinar. “ Oh yach…katakanlah mungkin biarpun hanya sedikit barangkali bisa menambah data yang kumiliki.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Tapi aku harus tahu dulu dengan perkembangan penyelidikanmu,” Dodi tersenyum penuh kemenangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“OK. Inilah gunanya teman, mungkin. Kita bisa saling tukar informasi. Berdasarkan sebuah teori…hmm…teori kebutuhan, menurutku,…aku telah mencoba mengorek kemungkinan motif masing-masing orang untuk melakukan pencurian itu. Ardian &#8211; Si maniak game stretegi itu &#8211; butuh uang dalam jumlah besar untuk memperbaiki komputernya yang rusak. Kamu tahu ‘kan bagaiman tidak enaknya Ardian hidup tanpa nge<em>game</em> di computer. Sementara ayahnya yang kaya mulai membatasi keuangannya sejak dia tertangkap basah dalam taruhan lomba game. Motifnya bisa kamu pastikan sendiri. Sedangkan Andri, dia sangat royal dengan anak geng. Agaknya dia selama ini minta di<em>backing</em>-i sama anak-anak geng itu, dengan imbalan mentraktir mereka setiap mereka mau. Andri sudah terikat dengan kesepakatan itu sementara dia tidak berani untuk menolak permintaan teman-teman gengnya yang kelewat serakah jika sudah minta ditraktir. Padahal uang sakunya tidak cukup besar untuk siap mentraktir mereka setiap mereka meminta. Sekarang ini dia sedang sangat butuh uang karena anak-anak berandalan itu mulai menagih untuk ditraktir,.” Erik berhenti sejenak dan memandangi Dodi sesaat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Cukup jelas. Terus bagaimana dengan Malik dan Agus ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Malik, kamu tahu kan, rasanya kebutuhannya hanya main <em>Play Stations </em>di rental karena si gila PS itu nggak mungkin melakukannya di rumah dalam waktu lama, bisa dimarahi bapaknya yang bergaya militer itu kalau dia nge-game terus di rumah. Kabarnya, aku sudah mengkroscek dan ini benar, dia saat ini mempunyai hutang di rental PS dalam jumlah lebih dari empat ratus ribu rupiah. Jumlah yang nggak sedikit bukan ? Lagi pula Malik terkenal royal sama cewek-cewek. Untuk mencari perhatian, dia sering mentraktir mereka saat jajan dikantin atau diluar sekolah. Semacam penyakit mental, ingin selalu diperhatikan, kelihatannya.” Erik menghela napas sebentar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Lanjutnya.” Sementara Agus kebutuhannya memang besar, tapi dia itu anak yang dimanja orang tuanya walaupun sebenarnya dia bukan anak yang manja atau salah asuh. Semua kebutuhannya selalu di penuhi oleh ayahnya yang pengusaha. Jadi sampai saat ini belum ada indikasi motif untuk melakukan pencurian. Akan tetapi bukan berarti tanpa motif orang lantas tidak bisa melakukan pencurian itu. Kadang kala kesempatan dan peluang adalah pembentuk motif yang paling kuat bagi seseorang untuk melakukan tindak kejahatan. Siapa tahu ? Oh yach informasi apa yang bisa kamu berikan padaku ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Jejak sepatu di bawah meja Inneka ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Sialan. Kukira informasi apa. Huh,..itu tidak akan banyak membantu ada banyak jejak sepatu di sana. Lagi pula sulit menentukan jejak sepatu siapa saja yang ada di lantai leramik itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Tidak. Aku kira bukan begitu. Kamu kurang detail kukira. Kamu tidak memperhatikan warna tanahnya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Warna tanah ? Ada apa dengan warna tanah ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Ada sebuah jejak sepatu Trendy di sana.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Ayolah jangan membuatku terlihat bodoh dengan teka-tekimu. Banyak teman-teman di kelas kita yang memakai sepatu merk Trendy.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Warna tanah yang ada di salah satu sepatu Trendy itu berbeda dengan warna sepatu basah setelah pergi ke kamar mandi kemudian menginjak debu yang belum sempat di sapu. Jadi sepertinya jejak sepatu Trendy itu, sebelumnya sudah membawa tanah dari luar halaman sekolah lalu menginjak air yang disemprotkan di halaman yang belum kering. Jejaknya sangat jelas dilantai keramik kelas kita sangat berbeda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Oh yach benar,” Erik terlihat girang.” Ini pasti akan sangat membantu. Minimal dalam menetapkan waktu kejadian sebenarnya. Sehingga siapa pun yang alibinya tidak wajar setelah waktu dapat ditentukan. Tentunya akan bisa menghindar lagi dari tuduhan atas kejahatannya. Thanks, Dod”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">ERIK KETEMU PAK RUDI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><strong><span> </span></strong>“Pak Rudi,” sapa Erik ketika sampai di ruang guru olah raganya. “ Bisa menganggu sebentar, pak ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Pak rudi yang saat itu sedang menekuni game <em>Red Alert</em> di komputernya kontan saja menjadi kaget dan gugup karena ketahuan murid oleh muridnya, sedang asyik ngegame. Tetapi kekagetan itu tampaknya tidak berlangsung lama, karena setelah itu dalam waktu singkat muka Pak Rudi sudah memancarkan keseriusan yang terkesan angker.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Iya. Ada apa ?” tanya Pak Rudi singkat namun terdengar lugas dengan sedikit kegalakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Pak saya mau tanya,” Erik memulai dengan agak segan.” Tadi pagi antara Andri, Ardian, Agus, dan Malik, siapa pak yang datang paling duluan ? Biasanya kan langsung diabsensi. Mungkin bapak bisa memberitahu saya urutan kedatangan mereka….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Apa ? kamu ke sini hanya mau tanya soal itu,” muka Pak Rudi berubah memerah dalam sekejap. Kemarahan nampak diwajahnya yang mengeras. “ Dengar yach…aku itu ngajar sembilan kelas. Tidak ada gunanya mengingat hal-hal sepele seperti itu. Hakim dan jaksa saja akan segera lupa masalah yang ditanganinya setelah selesai diadili. Buat apa hal-hal seperti itu diperhatikan. Sudah pergi sana menggangu saja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Baik, Pak. Permisi”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Erik meninggalkan ruang guru olah raganya dengan perasaan mendongkol. Menggangu apa, wong dia cuma main game, memangnya dia digaji untuk itu, pikirnya dalam hati. Erik kembali ke kelasnya sambil menggerutu.” Sialan si killer itu. Hakim dan jaksa professional memang akan segera melupakan kasusnya setelah kasus itu berakhir setidaknya beberapa hari setelahnya. Tapi si killer itu baru tadi pagi masa sudah lupa. … tidak diragukan lagi, benar-benar lebih professional.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">PENYELESAIAN KASUS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Sebuah Titik Terang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Hari Rabu, semua siswa kelas II. 1 telah lengkap. Beberapa murid yang pada hari sebelumnya tidak masuk hari ini sudah tampak di tengah teman-temannya. Mereka keheranan mendengar slentingan dan obrolan yang ada di kelas itu. Biasa gossip yang berkembang seputar masalah hilangnya uang pembayaran kaos itu. Beberapa obrolan lainnya juga menambah hiruk-pikuk suasana kelas sambil menanti kehadiran guru yang belum masuk ke kelas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Hari itu Bu Andini, wali kelas II.1, telah memberi batas waktu bagi pelaku pencurian untuk mengakui dengan penekanan namanya akan dirahasiakan dan dibantu apabila memang memiliki kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Namun, sejauh ini belum ada titik terang yang menggembirakan tentang berakhirnya kasus itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ian tampak asyik ngobrol dengan Silvia dan Dewi. Sementara itu Inneka juga tampak di tengah-tengah mereka, namun kegembiraan tidak sedikit pun tampak di wajahnya. Mereka mencoba berkenalan lebih dekat. Ian, yang pada dasarrnya mudah bergaul dan cukup sopan, walaupun kadangkala sifatnya yang mirip keangkuhan muncul, ternyata cukup bisa membawa suasana santai dan ceria sambil sesekali terdengar suara tawa mereka yang berderai. Namun tidak pada Inneka, hatinya masih berbalut kesedihan dan kecemasan atas masalahnya. Ian sebenarnya sejak semula telah memperhatikan raut muka gadis yang ada dihadapannya itu. Kasihan, pikirnya. Dia lantas menghentikan canda tawanya dan mengajak Inneka bicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sudahlah, Inneka,” Yakin sajalah uang itu akan ketemu. Aku jamin deh … berdoa sajalah. Kalaupun tidak ketemu, kita kan bisa mencari alternative lain untuk mengganti uang itu. Aku akan membantu sebisaku. Sekarang kamu santai saja …jangan terlalu dipikirkan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Bagaimana tidak dipikirkan, uang sebanyak itu ‘kan tidak bisa kita dapatkan hanya dalam waktu….,” Inneka tidak jadi melanjutkan kata-katanya ketika matanya beradu pandang dengan Ian yang ada di depannya. Mata Ian itu bukan lagi mata yang beberapa menit lalu memancarkan keceriaan dan kegembiraan dalam canda tawanya, tetapi sorot mata yang serius. Begitu tajam dan menyimpan sebuah misteri. Inneka seperti tersihir oleh tatapan mata itu, perlahan-lahan ketentraman merasuk dalam jiwanya dan ketenangan hati telah dia dapatkan kembali. Aneh sekali perasaanku, tetapi memang tidak ada gunanya dirisaukan, pikir Inneka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Ian !! ” teriak Dodi tiba-tiba saat masuk ke dalam kelas mengejutkan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Jangan teriak-teriak , dong. Aku ‘kan tidak tuli. Ada apa sih, Dod ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Aku sudah tahu siapa pelaku sebenarnya pencurian di kelas kita,.” Kata Dodi tersenyum bangga. Dari tekanan suaranya, Ian mengetahui bahwa Dodi bersungguh-sungguh dan yakin dengan apa yang dikatakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Siapa ?!” seru mereka hampir bersamaan. Mereka menatap Dodi yang tersenyum-senyum nyengir kuda. Mungkin lebih tepatnya nyengir kuda Nil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Agaknya Dodi tidak ingin pendapatnya didengar oleh semua orang, dia lalu mendekatkan wajahnya pada Ian dan teman-teman berkumpulnya. Sambil katanya,” Menurutku Malik adalah pelakunya .”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Hei. Jangan nuduh sembarangan. Dod. “ seru Inneka.” Bisa berabe urusannya kalau sampai Malik tahu kamu menuduhnya tanpa bukti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Bener. Memangnya kamu punya bukti apa, Dod ?” tanya Silvia mencoba mencari tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Kayaknya Si Gendut, ini belum pernah kena batunya, kali,” Dewi ikut-ikutan menimpali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Aku bukan asal nuduh kok. Ada banyak bukti kuat yang mengarah pada Malik sebagai tersangka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Coba. Apa buktinya ?” Silvia terlihat tidak sabar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Jejak sepatu Trendy di bawah meja Inneka, seperti yang kamu beritahukan kemarin itu, Ian ” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Selanjutnya pandangan ketiga orang lainnya tertuju pada Ian. Ian sendiri tidak tahu apa yang dimaksudkan Dodi. Dia pasti sudah salah paham, pikir Ian. Agaknya dia harus memperjelas hal yang sebenaranya agar teman-temannya tidak salah paham dengan dirinya. “ Tunggu dulu, Dod. Aku hanya mengatakan bahwa jejak sepatu Trendy kemarin bukan berasal dari sepatu basah setelah pergi ke kamar mandi, tetapi membawa tanah yang berasal dari luar sekolah lantas menginjak halamn yang masih basah karena disemprot. Sementara keterlibatan pemilik sepatu masih harus dibuktikan lagi. Ah,…kamu jangan terburu-buru menuduh seperti itu Dod.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Tidak. Aku yakin tidak salah. Erik pun memiliki kesimpulan yang aku yakin hampir sama denganku. Di antara keempat orang tersangka itu ada 2 orang yang memakai sepatu merk Trendy yaitu Ardian dan Malik. Sementara dari motifnya saja jelas bahwa Malik mempunyai hutang dalam jumlah yang cukup besar di rental PS dan dia baru-baru ini sering sekali mentraktir cewek-cewek.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Dod, tidak sesederhana itu,” Ian mencoba untuk meluruskan.” Sebaiknya kamu simpan saja dulu dugaanmu. Akan kujelaskan kesalah pahamanmu tentang apa yang kuberitahukan kepadamu kemarin. Begini, Dod. Aku juga sudah mengkroscek tentang jejak sepatu Trendy itu. Kemungkinan besar jejak sepatu itu bukan milik Ardian atau pun Malik. Kamu ingat bukan cekungan memanjang yang ada ditengah telapak sepatu yang kemarin kita lihat. Sol sepatu itu seperti sebuah stempel yang setidaknya telah memberitahuku bahwa jejak sepatu itu bukan miliki mereka berdua.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Huh…omong kosong, “ seru Dodi.” Aku sangat yakin dengan kesimpulan yang kuperoleh. Lagi pula aku sudah memegang beberapa bukti yang lain yang tidak akan kuberitahukan padamu.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>“Tetapi sobat,” Ian tidak mau kalah.” Aku yakinkan sekali lagi jejak sepatu Trendy itu adalah milik orang lain.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Memangnya kamu sudah tahu siapa pemilik jejak sepatu itu ?” kata Dodi setengah menantang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Ya. Tentu saja,”singkat dan penuh keyakinan Ian menjawab. Sorot matanya tampak berbinar, seolah-olah dia memang telah mengetahui semuanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Katakanlah. Siapa ?” desak Dodi dengan ketidaksabarannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Tidak sekarang, kawan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Huh…aku yakin kamu sebenarnya belum tahu apa-apa. Kesimpulanmu pun bisa jadi akan tidak jauh beda denganku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>“ Kamu lupa, Dod, bahwa aku memiliki metode tersendiri dalam hal ini “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dodi mau tidak mau terdiam. Bagaimana pun dia telah tahu bahwa Ian, bukan orang sembarangan. Ian telah membuktikan bahwa dia dengan tepat telah menebak hobinya dan hobby Silvia. Namun agaknya dia tetap belum mau mengakui kemampuan kawan barunya itu. “ Agaknya kita berada pada jalan yang berbeda sekarang, mungkin aku tetap akan bertahan dengan dugaanku, sedang kamu bisa membuktikan bahwa aku telah salah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Bagiku bukan benar atau salah. Tetapi aku yakinkan. Sobat. Hanya ada satu kebenaran dalam persoalan ini dan kau harus hati-hati dalam melangkah karena kesalahan mengambil sikap dan tindakan dapat menggiring kita pada penyesalan berkepanjangan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Thanks atas nasihatnya. Rasanya nasihat itu lebih tepat untukmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>“ Ya. Sejauh ini data yang aku peroleh begitu terangnya. Setidaknya siang nanti dan besok adalah panggung terakhir yang akan kita mainkan untuk mengungkap keruwetan yang telah menimpa kelas kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Panggung terakhir ?” anak anak itu jadi bertanya-tanya tentang apa yang dimaksudkan Ian dengan panggung terakhir. Sementara Ian hanya tersenyum, tanpa berkomentar lebih jauh. Teman-temannya menganggap senyum dari wajah tampan itu tampak begitu misterius. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Kesempatan Kedua</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Setelah pelajaran di sekolah itu usai, sesuai arahan Bu Andini selaku wali kelas II.1, siswa-siswa di kelas itu tidak langsung pulang. Ketika Ibu Andin masuk ke kelas, suasana menjadi lengang, bahkan suara selembar kertas yng jatuh pun seolah-olah bisa di dengarkan. Semua sibuk dengan bayangan masing-masing. Menebak-nebak apa yang bakal terjadi pada siang hari itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Anak-anak kemarin Ibu telah memberi keempatan kepada salah satu dari kalian yang melakukan pencurian untuk mengakuinya secara tertutup kepada ibu. Hanya saja sampai siang hari ini belum ada satu pun dari kalian yang menemui ibu. Tetapi ibu sudah mempunyai titik terang tentang siapa pelaku sebenarnya. Tetapi ibu tetap akan<span> </span>berbaik hati selam satu hari lagi kepada siwa tersebut, karena ibu melihat dia memang sedang ditimpa permasalahan yang rumit. Akan tetapi jika sampai besok siang tetap tidak ada yang mengaku, maka rasanya ibu tidak dapat berbuat banyak lagi, hukum harus ditegakkan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Memangnya siapa yang ibu maksud ?” tanya salah seorang siswa. Ternyata ada juga yang belum paham dengan perkataan Ibu Andini, behwa beliau masih akan merahasiakan jati diri pelaku demi menjaga nama baiknya. Ibu Andini menanggapi pertanyaan itu dengan tersenyum. Lalu dia beliau berjalan lebih mendekat ketengah-tengah ruangan kelas. Sementara siswa kelas II.1 menjadi bertanya-tanya tentang hal itu. Untuk sejenak kelas menjadi berisik. Suara saling berbisik merebak ke seantero kelas seperti suara sekumpulan lebah disarangnya sambil sesekali terdengar keluhan dan tarikan napas panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Anak-anak. Setidaknya ibu akan memberikan sedikit ciri-ciri pelaku untuk membuktikan bahwa ibu telah tahu tentang hal ini. Pelaku adalah anak biasanya yang memakai kendaraan yang tidak terlau banyak digunakan di sekolah kita. Karena kebanyakan siswa di sekolah kita memakai kendaraan bermotor atau angkutan umum. Di sekolah kita hanya ada 10 orang yang memakai kendaraan ini dan dikelas kita hanya ada …ah tidak perlu ibu sebutkan. Perawakannya tidak terlau tinggi dan saat ini dia sedang sangat butuh uang dalam jumlah besar karena memiliki urusan dengan rumah sakit. Padahal keadaan ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk meneuhu kebutuhan tersebut. Itu saja mungkin yang perlu ibu sampaikan. Akan ibu tunggu sampai besok siang. Nah, anak-anak sekarang kalian sudah boleh pulang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Setelah Bu Andini meninggalkan kelas, tampak Erik sang ketua kelas bersungut-sungut. “ Huh … ternyata cuma trik psikologis saja,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Beberapa teman yang duduk disampingnya mendengar ucapan Erik itu jadi tumbuh rasa ingin tahunya. “ Maksudmu trik psikologis itu bagaimana, Rik ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Manusia jika merasa posisinya sulit dan terjepit akibat ancaman yang berasal dari luar maka akan ada dua kemungkinan yang akan dilakukannya untuk menyelesaikan masalah. Pertama, dia akan nekad menanggung resiko dan kedua dia akan pasrah menyerah. Aku yakin kemungkinan besok ada yang mau mengaku, rasanya tidak akan terjadi. Peluang keberhasilan 50 : 50 rasanya telalu bagus untuk masalah ini. Mungkin masalah ini memang butuh tampilnya Erik untuk menyelesaikannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Siswa yang mendengar perkataan terakhir Erik tersebut hanya mendengus saja, namun sebagian dari mereka sebenarnya memang merasa pesimis juga dengan perkembangan masalah yang mereka hadapi.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Sebuah Pengakuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Kamis pagi itu diawali dengan sebuah konflik kecil antara Erik dan Malik. Pasalnya Malik merasa dituduh sebagai pelaku pencurian uang pembayaran kaos yang ada ditangan Inneka. Sementara itu isu tersebut telah menjadi pembicaraan secara luas dikelas itu. Malik menduga, Erik-lah yang telah menyebarkan isu tersebiut karena, menurut laporan beberapa teman Malik, Erik ikut mem,berikan penguatan bahwa malik telah terlibat. Hal itu membuat Malik mendongkol, maka ditumpahkannuya semua unek-unek dan kekesalannya pada Erik, sang ketua kelas. Konflik itu akhirnya mereda dengan masuknya Bu Andini masuk ke kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Anak-anak gembira sekali pagi hari ini,” sebenarnya tanpa berbicara seperti itu pun wajah Bu Andini sudah menampakkan kegembiraan sejak masuk ke kelas tadi. Siswa-siswa di kelas itu semakin bertanya-tanya ketika Bu Andini mengatakan kegembiraannya. Apakah pelakunya sudah mengaku, tanya mereka dalam hati. Agaknya Bu Andini mengetahui rasa penasaran muridnya dan beliau pun tidak mau banyak berteka-teki.<span> </span>Beliau melanjutkan : ” Semua permasalahan di kelas kita sudah ibu anggap selesai. Sebelumnya ibu ucapkan terima kasih kepada salah seorang dari teman kalian, yang dia sendiri sebenarnya tidak mau namanya disebutkan, yang telah membantu ibu dalam memecahkan masalah ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Sejenak ruangan itu menjadi gaduh, karena penghuni kelas itu mencoba memastikan dan mencari jawaban dengan saling bertanya dan menduga-duga tentang siapa yang telah berperan membantu wali kelas mereka. Sebagian besar siswa beranggapan mungkin Erik-lah yang telah membantu Bu Andini dalam menyelesaikan kasus itu, namun sebagian yang lain beranggapan bahwa hal itu rasanya agak janggal bila Erik yang melakukannya. Erik dikenal sebagai anak yang selalu ingin dilihat apa yang telah dilakukannya, sedangkan orang yang membantu Bu Andini justru berusaha agar namanya tidak diketahui orang lain. Pada kesempatan itu justru Silvia dengan segera mengarahkan pandangannya kepada Ian, barangkali dia yang telah membuka tabir permasalahan di kelas mereka. Namun, Silvia tidak menemukan ekspesi apapun pada wajah siswa pindahan dari Bandung yang tampak tenang itu. Suasana kembali lengang ketika Bu Andini mulai berbicara lagi, seluruh perhatian mereka terpusat untuk menyimak ucapan wali kelas mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Anak-anak. Uang pembayaran kaos yang hilang kemarin hari ini telah dikembalikan melalui ibu walau pun baru dikembalikan Rp 600.000,00. sisanya nanti urusan nak Inneka dan ibu. Sesuai janji ibu, maka identitas siswa tersebut akan ibu rahasiakan. Oh ya…nak Inneka orang yang mengambil uangmu telah beriktikad baik mengembalikannya dan dia sebenarnya memang sangat membutuhkan uang itu. Tetapi maalahnya sendiri sekarang telah bisa sedikit di atasi. Tentunya kamu bias memaafkannya walaupun kamu tidak perlu tahu orangnya, bukan ?“</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Ya..Bu. Saya maafkan kalu memang dia sebenarnya sangat membutuhkan. Hanya saja saya sangat berharap hal ini tidak akan terulang kembali di kelas kita.” Kata Inneka tersenyum, kegemnbiraan nampak dari wajahnya ketika Bu Andini menyerahkan sejumlah uang kepadanya.” Hitung dulu nak, ada Rp 600.000,00.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Dengan demikian, “kata Bu Andini selanjutnya. “Anggap saja peristiwa ini berakhir. Setelah ini ibu berharap kalian bias belajar lebih baik. Dan ibu harapkan juga tidak usah saling menduga-duga atau curiga satu sama lain, karena masalah ini benar-benar telah selesai. Ibu tahu kalian pasti penasaran tentang hal ini, tetapi semua ini ibu lakukan demi kebaikan kita bersama. Ibu jamin hal ini tidak akan terjadi lagi di kelas kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Beberapa anak nampak berbisik-bisik. Mereka pada dasarnya merasa tidak puas dengan penyelesaian masalah tersebut. Mereka menginginkan penyelesaian masalah secara gamblang, sehingga selanjutnya mereka lebih mudah menetukan sikap tanpa ada ganjalan. Apalagi Malik, yang sebelumnya sempat bersitegang dengan Erik, dia merasa masalah itu harus tuntas karena bagaimana pun sebelumnya beberapa selentingan isu yang berkembang sempat mengarahkan tuduhan terhadap dirinya. Dia beranggapan kecurigaan akan tetap mengarah pada dirinya atau ketiga temannya yang sempat diperiksa oleh Erik seolah-olah seorang ‘pesakitan’. Lagi pula menurutnya, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi dalam masalah itu, berani berbuat tentu juga harus mempertimbangkan konsekuensinya. Beberapa temannya yang lain termasuk Ardian, Agus, dan Andri mendukung pendapat Malik itu. Bagaimana pun ketidak jelasan masalah itu, menurut mereka, justru akan menimbulkan efek yang lebih buruk dibandingkan apabila masalah tersebut terselesaikan secara lebih transparan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ibu Andini hanya diam saja mendengar protes mereka, beliau sendiri merasa kebingungan untuk mengungkap hal terebut. Apa yang telah disampaikan siswa-siswa tersebut ada benarnya juga, ketidak jelasan penyelesaian masalah tentang siapa yang telah melakukan pencurian uang itu dapat berakibat tidak baik dalam pergaulan mereka. Bias saja nantinya wujud kehati-hatian yang berlebihan dari masing-masing siswa justru menimbulkan rasa saling curiga sehingga kebersamaan kelas tersebut akan sukar dipertahankan. Namun di sisi hati yang lain, beliau tidak sampai hati dan merasa terbebani perasaannya apabila harus menungkapkan tentang siapa pelaku sebenarnya pencurian itu. Apalagi beliau sebelumnaya telah menjanjikan untuk melindungi identitas pelaku apabila mau mengakui perbuatannya. Ketika konflik pribadi tersebut berkecamuk dalam diri Bu Andini. Sementara kelas mulai gaduh dengan dukungan terhadap Malik dan kawan-kawannya, tiba-tiba seorang siswa berperawakan<span> </span>kurus, dengan postur badan tidak terlalu tinggi, dan mengenakan sepatu Trendy tampil ke depan kelas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Dengan suara bergetar anakitu berbicara :” Teman-teman. Saya minta maaf telah menimbulkan permasalahan seperti ini di kelas kita,…hal ini karena…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Anak itu menunduk ada beban yang sangat berat menggelayuti tenggorokannya sehingga kata-kata yang hendak diucapkannya serasa takkan kesampaian menjadi kalimat-kalimat yang mudah dipahami. Sementara kelas menjadi gaduh kembali karena hal ini adalah sesuatu yang tidak mereka duga sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Arnowo, ah…. tidak mungkin,” Silvia ternganga melihat kenyataan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Dia kan hari selasa kemarin tidak masuk, bagaimana mungkin dia yang melakukannya ?” Dewi menambahkan disambut keheranan oleh teman-temannya yang lain yang mengiyakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Teman-teman…maaf saya…Inneka saya merasa sangat bersalah kepadamu. Maafkan saya…,” siswa bernama Arnowo itu mulai bisa menguasai dirinya, namun air mata tiba-tiba mengalir dari kedua matanya dan pertahanan diri itu hanya berlangsung sementara selanjutnya dia terguguk seolah menyesali apa yang telah dilakukannya. Selanjutnya setelah tangisnya agak mereda : ” Terus terang saja saya sangat membutuhkan uang itu untuk membiayai perawatan dan operasi bapak saya di rumah sakit. Aku kebingungan, sejumlah besar uang harus segera aku bayarkan sementara simpanan unag dan batrang-barang milik keluarga sudah habis terjual. Bapak sejak tiga bulan yang lalu telah mengundurkan diri dari perusahaan karena difitnah telah menggelapkan uang perusahaan. Seandainya benar beliau telah menggelapkan uang tentu uang itu masih ada dan bisa kami nikmati saat ini, akan tetapi sebenarnya beliau hanya korban fitnahan teman kantornya yang tidak suka pada bapak. Beliau menjadi kambing hitam atas hilangnya sejumlah uang dikantor.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Arnowo berbicara dengan intonasi yang agak meninggi untuk kemudian dia terisak dan suaranya melemah, pikirannya saat itu menujukkan kekalutan dan penyesalan yang mendalam. “ Ibu meninggal setelah satu bulan setelah bapak dipecat dari kantornya, oh…rasanya dunia ini…oh. Ibu sakit gara-gara tidak kuat menanggung malu karena dikucilkan tetangga dan dijauhi teman-teman arisannya. Selanjutnya mau..tidak mau …saya harus bekerja menjual koran seusai sekolah agar tetap ada tamnbahan biaya untuk sekolah. Sementara bapak yang tidak biasa bekerja kasar…demi sesuap nasi dan agar aku dan adik-adikku tetap bisa melanjutkan sekolah, …ohh…beliau rela bekerja sebagai kuli di sebuah pasar di kota ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Suara Arnowo tercekat, matanya yang embali berkaca-kaca saat itu juga sudah tidak mampu menahan beban air mata yang segera tertumpah dan mengalir deras membasahi pipinya yang kurus. Sambil terisak dia mencoba untuk melanjutkan ceritanya. “Setiap pulang kerja ayah selalu kelihatan letih, walaupun beliau jarang mngeluh namun saya tahu beliau selalu merasakan badan yang capek, perih, dan pegal-pegal…semuanya terlihat dari wajah beliau yang sudah tidak muda lagi. Oh…sebuah beban berat dimasa tuanya. Saya benar-benar kasihan kepadanya. Dan rupanya Tuhan masih terus mau menguji kami, setelah kehilangan ibu, perabotan rumh hamper habis terjual, siang itu aku masih sangat ingat hari jumat…bapak …mengalami kecelakaan. Sebuah bus …menabrak beliau…tubuh tua bapak…oh…beliau pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit. Kedua kaki bapak patah, sementara pendarahan terus berlangsung. Ayah tidak sadar selama tiga hari. Beliau harus dioperasi. Aku…aku bingung…darimana akan dapat uang dalam jumlah yang begitu besar untuk biaya penebus pembayaran bapak selama dirumah sakit.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Siswa-siwa yang ada di kelas saat itu mendengarkan penuturan Arnowo dengan seksama. Beberapa orang diantaranya bahkan terbawa oleh suasana sehingga mau tidak mau ikut meneteskan air mata. Berhenti sejenak terguguk dalam tangisan yang hendak ditahannya, Arnowo kemudian melanjutkan kisah perjalanan hidupnya yang begitu pahit: “ Aku sudah mencoba meminta bantuan kepada beberapa saudara dekat ayah dan ibu untuk membantu perawatan beliau. Ada bebrapa saudara yang mau mengulurkan tangannya namun masih belum memadai untuk pembayaran itu. Aku sadara kondisi mereka tidak jauh berbeda dengan kondisi keluarga saya. Sementara beberapa keluarga yangcukup bisa dibilang kaya….oh Tuhan…mereka …jangankan membantu mareka bahkan tersenyum sinis menyaksikan penderitaan kami sambil katanya,’begitulah upah dari perbuatan curang mngkorupsi kekayaan perusahaan’ …Oh sakit sekali…rasanya saya tidak akan pernah melupakan hal itu seumur hidupku. Hati ini terasa sakit sekali jika ingat..hal itu.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Lanjutnya: ” Teman-teman sejak Sabtu kemarin aku sudah tidak bisa masuk ke sekolah karena bapak tidak ada yang menjaga. Aku tidak sampai hati meninggalkan bapak di rumah sakit dalam kondisi itu, sehingga untuk membuat surat ijin dan mengantarkannya ke sekolah pun tidak sempat. Hari Selasa pagi yang lalu bibi tetangga sebelah menjenguk ke rumah sakit, bibi itu lantas menawarkan diri untuk menjaga ayah semnatara. Waktu itu aku manfaatkan untuk mengantarkan surat ijin ke sekolah. Sekitar jam 8.00-an aku sampai di kelas …sepi sekali. Lantas aku melihat tas Inneka yang sedikit agak terbuka…terbayang aku akan sejumlah uang dalam jumlah yang besar di kepalaku. Lantas aku…oh Inneka …maafkanlah aku.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Arnowo saat itu bersujud di depan kelas tiba-tiba. Bebrapa siswa, termasuk Ian diantaranya mengira bahwa Arnowo jatuh pingsan sehingga mereka buru-buru merangkul tubuh siswa yang kurus itu. Arnowo kembali terguguk. Dia merangkul pada Ian dengan kuat seolah hendak menumpahkan semua beban yang beberapa hari terakhir kian menyesak di dadanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Terima kasih kawan…rasa-rasanya kamu adalah berkah Tuhan…sahabat sejati,” kata Arnowo dalam tangisnya. Tidak jelas ucapan itu ditujukan kepada siapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Menyaksikan adegan tersebut, sebagian besar siswa yang ada di kelas itu ikut meneteskan air mata. Ikut merasakan derita yang sama seolah merupakan bagian dari satu tubuh yang sama pula. Mereka bergerak ke depan dan ikut memeluk Arnowo yang mesih memeluk Ian dengan sangat kuat. Sebagian yang lain berusaha untuk menenangkan. Bu Andini pun ikut menyaksikan kejadian itu dengan seskali mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Sebuah kemesraan persahabatan sejati. Mengapa harus timbul justru pada saat-saat seperti ini ? Mengapa hikmat persaudaraan hakiki-saudara sejiwa tidak setiap saat hadir ? Suasana itu tampak begitu dramatis bahkan sekedar untuk menampakkan munculnya benih persahabatan dan saling pengertian. Misteri Illahi yang tidak setiap orang bisa menebak skenario-Nya sejak awal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Sebuah Penjelasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Kabar yang tersiar, hampir separuh pengobatan orang tua Arnowo, ditanggung oleh kakak Ian yang bekerja sebagai polisi. Kakak Ian memang telah mencarikan dana dari berbagai sumber yang ada di kepolisian yang berhasil dilobbinya dan juga dari sakunya sendiri termasuk sejumlah uang yang dikembalikan pada Inneka. Ibu Andini juga turut membantu lumayan banyak. Kamis siang itu sejumlah dana telah terkumpul atas prakarsa Erik, guna membantu biatya perawatan bapak Arnowo. Cari muka, begitu komentar beberapa siswa-siswa yang lain. Setidaknya masalah biaya operasi orang tua Arnowo telah terpenuhi. Arnowo berkali-kali tidak henti-hentinya menyatakan terima kasih dan melakukan sujud syukur atas kebaikan yang diterimanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"><span> </span>Seusai pelajaran hari itu beberapa orang siswa tidak segera pulang. Beberapa orang siswa, diantaranya Silvia, Dodi, Inneka dan Dewi tampak berkerumun di dekat Ian. Begitu pula nampak Andri, Ardian, Malik, dan Agus bersama mereka. Setidaknya mereka telah tahu bahwa Ian, murid baru pindahan dari Bandung itu, memiliki peran dalam menuntaskan masalah yang ada di kelas mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ian. Ayo dong. Ceritakan bagaimana kamu bisa tahu memecahkan masalah ini. Ayo kok diam saja sih, “ bujuk Dewi diiyakan beberapa kawannya yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Teman-teman. Kalian kan sudah tahu aku sejak awal tidak ingin keterlibatanku ini diketahui secara lebih luas, jadi rasanya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ayolah, kamu begitu sih, Ian. Apa ruginya sih menceritakan pada kami,” kali ini gantian Silvia yang merayu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Maaf kawan-kawan. Aku sendiri sebenarnya merasa berat untuk menceritakan masalah ini. Bagaimanapun hal ini berkaitan dengan perasaan seseorang. Walaupun kalian kalian sudah tahu siapa pelakunya, namun pendirianku tetap. Dalam masalah ini aku termasuk yang setuju untuk tidak mengungkit permasalahan ini dihadapan semua orang sambil terus mengkondisikan kelas agar tidak timbul saling curiga setelahnya. Arnowo, bagaimanapun, aku tetap menghormatinya dan aku akan menyimpan apa yang aku ketahui tentang masalah ini<span> </span>sendirian. Maaf sobat. Dengan sangat menyesal aku tidak bisa bercerita banyak tentang masalah ini ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Wajah Ian memang menunjukkan sebuah penyesalan namun dia merasa bahwa ada sesuatu hal yang yang harus dia jaga dalam masalah ini. Maka dia berprinsip untuk menempatkan segala sesuatu pada posisinya masing-masing. Sesuatu yang harus dirahasiakan, termasuk ketika menyangkut rahasia orang lain, tentu saja harus tetap dijaga kerahasiaannya. Bahkan dia merasa seandainya Arnowo saat itu tidak mengakui perbuatannya di depan kelas, maka dia akan tetap merahasiakan hal itu. Tentunya dengan berusaha agar suasana tidak stabil akibat permasalahan itu dapat dicarikan solusi yang tepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ian,” tiba-tiba Arnowotelah berdiri di dekat mereka berkumpul. “ Terima kasih kawan. Rupanya kamu tetap ingin berbaik hati dengan tidak menceritakan sesuatu tentang diriku. Rasanya tak ada yang perlu ditutupi lagi. Terus terang aku juga ingin mendengarkan bagaimana kamu bisa melacak perbuatanku. Padahal sebelumnya kita tidak saling kenal baik. Hal itu sangat membingungkan diriku. Bagaimana kamu bisa melacak diriku sampai ketemu di rumah sakit Selasa sore kemarin.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Tuh… kan. Orangnya saja mengijinkan. Apa kamu masih mau berteka-teki lagi. Awas ya,” kata Silvia selanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Yah. Kalau begitu mau bagaiman lagi. Tentunya dengan sepengetahuan Arnowo kejadian itu akan aku ceritakan,” Ian berhenti dan kemudian memandang kepada Arnowo lalu matanya menatap satu persatu siswa yang saat itu berkerumun di dekatnya. Sementara dia melihat hanya mereka saja yang berada di kelas itu, sedang yang lain tampaknya sudah meninggalkan kelas pulang ke tempat masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ayo dong cepat, ngapain sih ngeliatin aku. Belum pernah lihat cewek cantik yach, “gurau Dewi centil disambut cekikikan oleh bebrapa anak yang ada di sana, sementara wajah Ian sejenak terlihat berubah memerah.Ge-eR banget sih kamu, Dew, pikir Ian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Baiklah kawan kawan, “ Ian mulai bercerita. “ Pertama, fakta bahwa terdapat jejak sepatu Trendy menempel di lantai keramik di bawah meja Inneka adalah jejak sepatu yang solnya basah lantas kemudian mengering di lantai itu. Tanah yang terbawa<span> </span>sepatu itu kemungkinan berasl dari luar sekolah kemudian kalian tahu bukan…beberpa hari sekali-aku mendapat informasi-halaman sekolah kita yang sudah dicor dengan beton selalu disemprot dengan air untuk menghilangkan debu yang menempel di sana. Sepatu Arnowo yang kebetulan membawa tanah sebelumnya, menginjak air sisa semprotan yang belum mengeringsehingga air itu meresap ke sol sepatu yang membawa tanah dari luar sekolah. Akibatnya ketika dia masuk ke kelas, maka jejaklnya tampak menempel di lantai keramik, kelihatan banget di bawah meja Inneka. Kemungkinan jejak lainnya saat Arnowo memasuki kelas sudah terinjak-injak kaki kalian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ian. Bagaiman kamu tahu bahwa itu jejak Arnowo ? Padahal kita semua bahkan tidak tahu bahwa Arnowo hari Selasa itu masuk ke ruang kelas. Dia kan ijin,” kata Dewi memberondong Ian dengan tidak sabar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Sabar sayang. Pelan-pelan dan harus sistematis. Ini membutuhkan sebuah metode yang memerlukan urutan yang jelas dan keterkaitan antar data yang ada, “ tukas Ian. Sementara Dewi tampak tersenyum-senyum sendiri, ‘sayang’, pikirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ian melanjutkan: “Aku sempat membedakan jejak sepatu basah yang mengering itu dengan jejak sepatu Dewi yang basah setelah pergi ke kamar mandi kemudian menginjak debu di lantai kelas kita yang kebetulan belum dibersihkan. Warna konsentrasi tanahnya berbeda. Maka aku tahu tanah itu kemungkinan besar berasal dari luar sekolah karena ku telah menyelidiki konsentrasi tanah yang ada di seputar sekolah kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ian menghela napas sebentar, kemudian melanjutkan analisisnya: ” Lalu kembali kepada jejak sepatu Trendy …ujung sepatunya agak aneh…ada cekungan memanjang di solnya melintang telapak sepatu dari ujung agak ke bawah &#8211; Dodi telah melihat hal itu. Cekungan itu terjadi akibat sol sepatu yang terkikis secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Sepatu yang terkikis karena sering berjalan, biasanya bentuknya lebih merata ke seluruh sol sepatu, tetapi ini berupa cekungan memanjang. Tentu saja kikisan itu bukan karena sering digunakan berjalan kaki. Dan anehnya bentuk kikisan itu hanya ada di sol sepatu sebelah kanan, sedang di sol sepatu sebelah kiri tidak terdapat cekungan semacam itu. Kemudian aku berfikir kikisan berbentuk cekungan memanjang itu adalah akibat tekanan ketika naik sepeda…pedal sebelah kanan &#8211; tempat kaki kanan mengayuh &#8211; telah lepas sehingga hanya tinggal besinya saja. Maka ketika dikayuh, dalam waktu yang lama akan menimbulkan kikisan berupa cekungan memanjang pada sol sepatu sebelah kanan. Pedal bagian kiri masih utuh sehingga tidak terjadi bentuk kikisan yang sama dengan sol sepatu kanan. Kemudian, kenapa cekungan itu terletak agak di ujung sepatu ? Tentu hal itu disebabkan karena orang itu tidak memiliki postur tubuh yang tinggi. Panjang kaki biasanya proporsional dengan tinggi badan. Jadi tentunya pemilik sepatu Trendy itu orangnya pendek sehingga ketika mengayuh pedal sepeda harus menggunakan bagian agak di ujung sepatu karena kakinya juga tidak terlalu panjang seimbang dengan tinggi badannya. Hal inilah yang mengakibatkan kikisan tersebut terdapat pada bagian sepatu agak di ujung. Sampai di sini jelas bukan ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Kembali Ian melanjutkan, sementara teman-temannya tampak asyik mendengarkan : ” Lalu aku mencoba untuk mengecek ke parkiran …kemarin sebenarnya aku ajak Dodi, tetapi kamu tidak mau. Aku cukup beruntung sepeda rupanya adalah kendaraan yang kurang lazim digunakan disekolah kita, kebanyakan para siswa memakai sepeda motor, diantar mobil pribadi, atau naik angkuta dan selebihnya justru memilih jalan kaki ketika berangkat sekolah. Dengan demikian sepeda menjadi kurang lazim dipakai, sehingga aku lebih mudah melacaknya. Kira-kira ada sepuluh orang saja yang bersepeda di sekolah kita. Dua orang bahkan berada di kelas kita yaitu Arnowo dan Fitria, Si Jilbaber besar itu. Lalu aku tanyakan kepada penjaga parkir sekolah tentang ciri-ciri sepeda seperti yang aku terangkan sekaligus pemiliknya yang yang tidak terlau tinggi postur tubuhnya. Penjaga parkir yang ternyata sangat hafal dengan pemilik sepeda yang jumlahnya sedikit itu, dengan yakin menjawab, bahwa yang dimaksud pastilah Arnowo dan sepedanya. Penjaga parkir itu bahkan menerangkan bahwa Arnowo itu orangnya pendek, kecil, dan kurus. Dia juga bercerita bahwa kemarin-Selasa itu maksudku-Arnowo sempat memarkirkan sepedanya di sana sebentar kemudian tak lama setelah itu dia mengambil sepedanya diparkiran dan pergi lagi. Jelas bukan ? Aku kemudian meneliti surat ijin Arnowo, tulisannya meyakinkan ku bahwa saat menulis dia dalam keadaan tertekan oleh sesuatu perasaan tertentu terlihat dari hurufnya yang tidak stabil, tebal tipisnya tidak merata, dan kadang tekanannya terlalu kuat dan terlihat ragu-ragu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Terus Bu Andini sempat mengatakan bahwa kondisi ekonomi keluarga Arnowo tidak memungkinkan untuk mengatasi permasalahannya. Itu pasti juga dari kamu kan sumbernya ? Kamu tahu hal itu dari mana, Ian? “tanya Dodi yang sejak tadi terdiam mendengarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Dari pedal dan sepatu Trendy itu aku mencoba untuk menarik sebuah kesimpulan. Sepatu Trendy adalah sepatu yang dikeluarkan dalam jumlah terbatas dan harganya pun sangat tinggi, maka aku menyimpulkan bahwa sebelumnya ekonomi keluarga Arnowo sangat bagus sehingga barang semahal ini dapat dibeli. Akan tetapi pedal itu memberikan keterangan yang lain kepadaku. Pedal sepeda harganya, kan tidak seberapa tetapi sudah rusak begitu sehingga mengikis sol sepatu kenapa tidak segera diganti ?. Tentu saja uangnya untuk kebutuhan yang lebih prioritas. Memiliki sepatu mahal, tetapi belum bisa segera mengganti pedal sepeda yang rusak artinya dulu pemilik sepeda itu hidup serba berkecukupan dan sekarang keadaannya telah berbalik. Tentang kondisi bapaknya Arnowo aku kemudian menyelidikinya dan semuanya cocok sesuai dugaanku. Lengkap sudah, kukira.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Seandainya kamu hidup di masa Majapahit pasti kamu sudah dibunuh orang beramai-ramai saat itu, Ian, “ komentar Silvia tanpa jelas apa maksudnya. Sekedar ucapan ngelantur yang tidak jelas atau sebuah ungkapan pujian atau ejekan. Mau memuji tapi bingung menemukan pujian yang tepat, barangkali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Benar. Dan kalau kamu masih akan hidup pada masa modern ini. Pasti kamu bisa dianggap dukun sakti tukang santet, “ sahut Dodi tak mau kalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Sialan, “ gerutu Ian disambut ketawa lepas oleh yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Dan kalau kamu jadi <em>playboy</em> or <em>casanova</em> kayaknya sudah ada yang mulai kecanthol nich…, “ Dewi menimpali seraya melirik ke arah Inneka. Silvia terlihat tidak cukup senang dengan lontaran Dewi yang ceplas-ceplos itu. Sementara Inneka menjadi cemberut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Tetapi aku tidak berharap kamu akan seperti itu, Ian, “gumam Silvia pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Semua siswa kelas II.1 yang ada di sana, termasuk Arnowo sendiri, memandang kagum ke arah Ian. Analisis Ian tersebut makin menguatkan kepercayaan mereka, terutama Silvia dan Dodi, bahwa siswa baru pindahan dari Bandung itu memiliki sebuah kemampuan yang luar biasa, tentu saja bukan memakai ilmu ghaib, dengan bantuan jin, atau dukun dan sejumlah takhayul lainnya. Tetapi inilah metode bernama deduksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ian !” teriak Inneka ketika Ian telah melangkah pergi meninggalkan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Ian menoleh dan didapatinya Inneka tersenyum manis penuh arti kepadanya. Dari bibirnya kemudian terlontar ucapan yang mengisyaratkan kekaguman : “ Terus terang kamu luar biasa. Terima kasih atas bantuannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN"><span> </span>“Ah …biasa saja,” kata Ian melangkah ke luar meninggalkan kelas itu pulang dan menghirup kebebasan yang masih tersisa dari waktu siang yang terasa panas itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto1.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto1.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto1.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto1.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/susiyanto1.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/susiyanto1.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/susiyanto1.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/susiyanto1.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto1.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto1.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto1.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto1.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto1.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto1.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=10&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-2-sebuah-kejahatan-kecil-di-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fb83a6a70f37b6a71e21d1c0cf1421c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NARASI 1: SEBUAH POHON KEHIDUPAN</title>
		<link>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/sebuah-pohon-kehidupan/</link>
		<comments>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/sebuah-pohon-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 00:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto1</dc:creator>
				<category><![CDATA[NARASI KAKEK TUA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto1.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Pernah suatu ketika dalam sel-sel kelabu yang tertanam dikepalaku, kubaca sebuah kisah yang entah aku lupa dari lembar kehidupan yang mana aku menghayatinya. Ingin kuceritakan kisah ini kepadamu sahabatku anggap saja sebagai sebuah kado persahabatan pengerat ukhuwah diantara kita Tentang seorang anak manusia yang terlupa dengan jati dirinya. Kehidupannya senantiasa dirundung duka dan nestapa. Tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=6&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><span style="line-height:140%;">Pernah suatu ketika dalam sel-sel kelabu yang tertanam dikepalaku, kubaca sebuah kisah yang entah aku lupa dari lembar kehidupan yang mana aku menghayatinya. Ingin kuceritakan kisah ini kepadamu sahabatku anggap saja sebagai sebuah kado persahabatan pengerat ukhuwah diantara kita Tentang seorang anak manusia yang terlupa dengan jati dirinya.<span> </span>Kehidupannya senantiasa dirundung duka dan nestapa. Tidak pernah terlewatkan hari-harinya melainkan dengan keluhan, rintihan, dan sumpah serapah. Menyumpahi keadaan dirinya yang mulai tidak berharga di mata sekian banyak manusia. Kehidupannya terpuruk sampai margin terbawah. Putus asa menjelma maujud sebagai manifestasi ketidakberdayaannya. Hidup bagai ditengah kungkungan sang waktu yang selalu menuntut kesiapan untuk digilas roda zaman, apabila tidak mampu bertahan.<span id="more-6"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">Suatu ketika dia mencoba mencari sisa nafas hidupnya, menapaki jalur berbatu sambil menyepak kerikil jalanan, tiba-tiba di hadapannya seorang kakek tua tersenyum menghentikan ayunan kakinya. Terhenti sejenak dipandanginya sang kakek, wajahnya yang bersinar membuatnya tertegun untuk sekian waktu. Wajah tua penuh guratan manis asam kehidupan, wajah yang menyiratkan jiwa yang teruji dengan sekian banyak cobaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">“Anakku tahukah engkau, apa arti kehidupan ini ?”, tanya kakek tua itu,”sehingga kau selalu merisaukan hidupmu yang senantiasa kaku menghadapi laju sang waktu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">Sang anak manusia terdiam dalam tafakur mencoba mengadili dirinya yang senantiasa tanpa daya memberikan jawaban atas problematika yang menimpa. </span><span style="line-height:140%;" lang="FR">Dia terus berjalan sesekali pandangannya terayun dan sang kakek renta terus menjajari langkahnya. Perjalanan terhenti di suatu tempat….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;" lang="FR">‘‘Anakku lihatlah ketiga batang kelapa itu, ketiganya tumbuh terus menerus menyerap inti sari bumi dan berkembang dalam naungan pencipta-Nya. Lihatlah ketika tubuh ketiganya mulai membesar pun bukan berarti tak ada cobaan yang akan menerpanya. Badai dan angin taufan akan senantiasa mencari kesempatan untuk menumbangkannya dan mencabut cengkeramannya dari tanah tempat mereka berpijak. Akan tetapi mereka senantiasa bertahan dan berusaha menjadi makhluk Allah terbaik dengan terus berusaha tanpa putus asa dari rahmat-Nya, menghujamkan akar, mengalirkan hara keseluruh bagian tubuhnya dan terus tumbuh dalam baktinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi umat yang membutuhkannya ‘’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">‘’Maaf kakek tua saya tidak paham dengan apa yang kakek maksud tentang pohon itu’’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">‘’Anakku seandainya engkau memiliki ketiga pohon kelapa itu, akan tetapi ketiganya tidak dapat menghasilkan satu buah pun untukmu, atau ketika kau mengharap batangnya untuk kau jadikan sesuatu yang berguna tenyata pohonnya pun telah rusak hilang guna faedahnya, ketika kau meminta khidmat dari daunnya ternyata telah pula rusak dimakan hama, dan kau pun tidak bisa mengharapa apa pun dari kebaikan pohon itu bagi kehidupanmu maka apa yang akan kau lakukan terhadap pohon itu?’’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;">‘’Kakek, mungkin aku akan menebangnya dan membakar batang serta daunnya, setidaknya itulah manfaat terakhir yang bisa aku ambil darinya’’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;" lang="FR">‘’Nak, tahukah engkau. Bisa diibaratkan dirimu seperti salah satu dari ketiga pohon itu. Ketika putus asa selalu menggelayuti dirimu, harapan hidup terkubur dalamperjalanan waktu, semangat mencair seperti cairnya salju, maka hilang sudah buah kebaikan yang tumbuh dari kemanusiaannya manusia. Bisa jadi nasibnya akan sama dengan ketiga pohon itu, ditebang dan dibakar oleh pemiliknya, musnah menjadi abu, terbang bersama angin dan dipermainkan dalam rotasi sirkulasi alam’’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;" lang="FR">‘’Lalu harus bagaimanakah aku ini, kek ?’’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><span style="line-height:140%;" lang="FR">‘’Anakku jadilah pohon<span> </span>terbaik yang akarmu mampu menembus kedalaman bumi untuk mencari hara dan air kehidupan, batangmu begitu kuat dan kokoh dan tetap mampu bertahan walupun beribu goda rencana dan mara bahaya menghadang, jadikanlah daunmu payung kehidupan dimana banyak jiwa bisa berteduh disana mencari segar dan nikmatnya merengguk kedahsyatan cinta Sang Maha Karya, tempat yang nyaman bagi beburung untuk berbagi kasih dan keceriaan, dan jadikan buahmu meranum dan harum yang mampu memuaskan dahaga segenap ciptaan dan mampu berbagi rasa antara semua umat-Nya.’’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:140%;"><em><span style="line-height:140%;" lang="FR">‘’Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, yang akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabb-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang zalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki’’. </span></em><span style="line-height:140%;" lang="FR">(<strong>Ibrahim : 24-27</strong>)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto1.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto1.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto1.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto1.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/susiyanto1.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/susiyanto1.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/susiyanto1.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/susiyanto1.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto1.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto1.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto1.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto1.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto1.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto1.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=6&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/sebuah-pohon-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fb83a6a70f37b6a71e21d1c0cf1421c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FILE 1: SISWA BARU BERKEMAMPUAN ANEH</title>
		<link>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-1-siswa-baru-berkemampuan-aneh/</link>
		<comments>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-1-siswa-baru-berkemampuan-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 00:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>susiyanto1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKSI IAN KHAIRIANSYAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://susiyanto1.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini di SMA Tunas Bangsa “Ingat. Murid baru. Jangan macam-macam dengan kami, atau &#8230;,”kata anak laki-laki berseragam SMA Tunas Bangsa sambil menjambak kerah baju milik seorang siswa dengan seragam yang agak berbeda dengan tangan kirinya yang kekar. Tangan kanannya mengepal di depan wajah siswa yang diancamnya itu. “Maaf. Tetapi aku benar-benar tidak bisa membantu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=3&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><strong><span lang="IN">Hari ini di SMA Tunas Bangsa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ingat. Murid baru. Jangan macam-macam dengan kami, atau &#8230;,”kata anak laki-laki berseragam SMA Tunas Bangsa sambil menjambak kerah baju milik seorang siswa dengan seragam yang agak berbeda dengan tangan kirinya yang kekar. Tangan kanannya mengepal di depan wajah siswa yang diancamnya itu.<span id="more-3"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Maaf. Tetapi aku benar-benar tidak bisa membantu kalian, “kata anak itu dengan tatapan tanpa ekspresi apa pun walau menghadapi ancaman yang nyata-nyata mengarah padanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sialan kamu. Kamu belum tahu siapa kami ?”kata siswa bertubuh kekar itu sambil mendaratkan tangannya ke muka anak baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Siswa itu meronta sehingga jambakan di bajunya terlepas. Walau tamparan yang dilakukan siswa bertubuh kekar itu meleset dari sasarannya, namun tidak urung siswa baru itu limbung dan terjatuh karena tidak mampu menguasai keseimbangan tubuhnya pada saat mencoba menghindari tamparan itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Rasa-rasanya aku mulai mengenal kalian,” kata murid yang terjengkang di lantai halaman SMA Tunas Bangsa itu.” Kamu, nama kamu Yuda, kulihat dari nama yang menempel di seragammu. Kamu mengikuti program <em>body builder</em> dengan rutin. Pria sebenarnya bernyali kecil tetapi selalu pura-pura menjadi kuat dan merasa <em>superior</em>. Kemampuan berkelahi kamu tidak terlalu baik. Kamu memang bisa berkelahi tetapi hanya ngawur dan tidak sistematis. Beberapa kali kamu terlibat perkelahian yang sebenarnya pembuat masalahnya adalah kamu sendiri karena sifatmu memang mudah tersinggung. Terus terang aku juga merasa heran. Dari apa yang kudengar SMA tunas bangsa adalah sekolah unggulan tetapi aku tidak tahu mengapa murid yang tidak terlalu pintar sepertimu bisa masuk ke sekolah ini. Ah bisa jadi apa yang kudengar tentang SMA ini salah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Siswa yang mengenakan seragam sebuah sekolah di Bandung itu menatap siswa bernama Yuda dengan tajam dan dari bibirnya sebuah senyuman sinis mengembang. Yuda merasa ngeri dengan tatapan tajamnya itu. Dia juga merasa gentar mendengar ucapan pemuda yang terduduk dihadapannya itu. Dia merasa apa yang di katakan anak itu semuanya benar. Lantas dari mana dia tahu ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sialan. Banyak mulut kamu !” teriak Yuda kesal dengan ucapan murid baru itu. perkataannya benar, namun<span> </span>Segan rasanya untuk mengakui sebuah kenyataan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Yuda. Kasihan sekali kamu. Aku tahu, kamu anak orang kaya. Cuma sayangnya kamu hidup dalam lingkungan miskin kasih sayang. Kamu meminta uang dariku bukan karena kamu tidak punya uang, tetapi karena kamu ingin dianggap bahwa kamu itu ada. Yah, hanya sekedar itu. Kasihan kamu kalau harus mencari perhatian dengan cara seperti itu,”ejek murid baru itu dengan senyum sinis di bibirnya. “Maaf. Kawan-kawan aku tidak punya banyak waktu untuk kalian. Aku harus segera ke kelas baruku. Tolong tunjukkan di mana kelas II.1.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Berani-beraninya kamu bersikap seperti itu dihadapan kami,”kata pemuda kekar itu. Di tengah keheranannya dia memberi isyarat kepada ketiga temannya.“Teman-teman. Hajar dia !” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Segera ketiga temannya menjambak kembali baju murid baru itu dan bersiap dengan pukulan mereka. Ketika sebuah pukulan sempat mendarat di tubuh murid baru pindahan dari Bandung itu, tiba-tiba sebuah teriakan keras menghentikan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Berhenti. Masih juga kalian bersikap sok berkuasa di sekolah ini. Dasar jagoan-jagoan <em>kucing kaki tiga</em>,” teriak seorang pemuda dengan mengenakan seragam yang tidak terlalu rapi dan terkesan urakan namun biasanya penampilan yang seperti ini justru disenangi dan dianggap menarik oleh kawula muda zaman sekarang. Keren, menurut mereka. Sementara di belakangnya tiga anak cewek dengan penampilan hampir sama urakannya berjalan seolah sedang mengawal seorang pembesar kerajaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sialan. Mau apa kamu <em>playboy</em> kampungan ?” seru pemuda kekar itu dengan raut muka kesal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Memangnya kalian punya apa ? Apa-apa aku juga mau, kok,” kata anak muda itu dengan santai dan cuek menggapi kekesalan pemuda kekar itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Pergilah, kalau kamu tidak ingin menyesal. Cari saja wanita yang banyak dan jangan ikut campur urusan kami”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Huh, melihat tingkah laku tengil kalian yang semakin menjadi aku semakin muak saja. Mana mungkin aku akan diam saja sementara kejahatan berlangsung di depan mataku,” kata pemuda setengah membentak. “Lepaskan murid pindahan itu. Kalian tidak pernah mau berubah. Keonaran saja yang ada di otak kalian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Mau jadi pahlawan, kamu ?” bentak si siswa kekar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sebaiknya kita pergi saja, Yuda. Jangan sampai kita berurusan dengan lelaki ke<em>gatel</em>an ini,”kata seorang teman Yuda dengan berbisik kepadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Entah kenapa Yuda, siswa bertubuh kekar itu, manggut-manggut mendengar saran dari kedua temannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Cepat pergi dari sini atau kalian akan kuhajar lagi,”teriak pemuda berpenampilan urakan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sialan kamu. Akan kuingat-ingat tingkahmu hari ini. Mencampuri urusan kami berarti cari mampus,” kata Yuda dengan tangan terkepal di wajahnya, mengancam. Telapak tangannya kemudian membuat gerakan memotong di lehernya. Dia segera mengajak kawan-kawannya meninggalkan tempat itu dengan gontai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh, ya. Jangan lupa kamu catat ancamanmu di <em>diary</em>. Biar tidak lupa,”kata pemuda itu mengejek melihat kepergian mereka. Lalu dia menatap ke arah murid baru yang masih terduduk di atas halaman berbeton SMA Tunas Bangsa yang di beberapa tempat terlihat belum mengering setelah disirami. “Hai sampai kapan kamu mau duduk-duduk di situ ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Murid baru yang terduduk itu bangkit sambil menahan rasa sakit akibat pukulan yang sempat mendarat di dada sebelah kirinya. Pemuda dengan kesan urakan itu menghampiri murid baru itu dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Terima kasih atas bantuannya, Arya,” kata murid baru itu sambil meraih uluran tangannya dan berdiri.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Hei, darimana kamu tahu namaku ?”kata lelaki yang dipanggil Arya itu dengan wajah terkejut bercampur heran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Murid baru itu kemudian menunjuk ke papan nama yang ada di kemeja seragam siswa penolongnya itu. Murid lelaki bernama Arya itu kemudian tertawa setelah menyadari kebodohannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tidak perlu kamu berterima kasih. Aku menolong kamu karena mereka, kok,” kata Arya sambil tersenyum sembari ujung ibu jarinya menunjuk ketiga siswi perempuan yang tadi sempat mendampinginya. Siswa baru itu tersenyum. Paham dengan maksud Arya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh, ya. Siapa nama kamu ?” tanya Arya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ian Khairiansyah. Pindahan dari SMA Kusuma Bangsa, Bandung,”kata murid baru itu tanpa mengulurkan tangan sebagaimana biasanya perkenalan terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Dari Bandung, ya ? Tapi logatmu sama sekali tidak mirip orang sana ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kebetulan aku tidak tinggal di lingkungan berlogat pribumi,” kata Ian singkat tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Lain kali hati-hati, ya. Mereka tadi itu anak-anak gang yang suka sok bertingkah. Terutama si Yuda sialan itu. Dia itu anak donatur terbesar yang menyumbang ke Yayasan Tunas Bangsa yang mengelola SMA ini. Makanya dia jadi sombong sekali, karenanya<span> </span>”kata Arya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tetapi kemampuan karate yang kamu miliki sepertinya cukup menggetarkan nyali mereka,”kata Ian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Tentu saja mendengar kata Ian itu, Yuda terkejut. Seingatnya dia tadi belum sempat memamerkan kemampuannya, tetapi dari mana siswa pindahan dari Bandung di hadapannya itu tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Hei. Kamu tahu dari mana ?” tanya Arya mencari jawaban untuk memuaskan keheranannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Banyak hal yang aku ketahui, kawan. Dari mana aku tahu, itu tidak penting,”kata Ian sambil tersenyum aneh. Mengesankan sebuah ekspresi keangkuhan dari wajahnya. ”Oh ya, kawan. Aku harus segera masuk ke kelasku. Ngomong-ngomong, kelas II.1 di mana, ya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kalau kamu banyak tahu kukira kamu tidak perlu mencari tahu dari aku dimana kelas II.1 berada,”kata Arya sambil tersenyum penuh kemenangan.”Sudah, ya. Aku harus pergi cewek-cewekku sudah menunggu, tuh. Sampai ketemu lagi”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Arya hebat banget, deh,” seru salah satu cewek sambil menggamit lengan Arya ketika dia sudah dekat dengan mereka. Lantas Arya menggandeng cewek-cewek itu menjauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Arya meninggalkan Ian sendirian. Pemuda pindahan dari Bandung itu hanya geleng-geleng kepala memperhatikan kepergian Arya. Apa yang didengarnya selama ini tentang SMA Tunas Bangsa rupanya agak berlainan dengan kenyataan yang dialaminya saat itu. Dia selalu membayangkan sekolah barunya itu diisi dengan murid-murid yang cerdas dan serius dalam belajarnya serta semua orang disana, baik siswa, pengajar, dan karyawan berkomitmen tinggi terhadap visi dan misi sekolah sebagaimana yang ada dalam brosur yang pernah dibacanya. Tetapi baru hari pertama menginjakkan kaki di SMA ini, dia hampir saja diperas sama geng sekolah dan bahkan baru saja dia berpisah dengan playboy-nya Tunas Bangsa yang rela meninggalkan jam pelajaran hanya untuk menyenang-senangkan dirinya. Belum lagi sistem administrasinya yang cukup rumit menyebabkan dirinya harus terlambat – paling tidak hampir satu jam pelajaran &#8211; untuk masuk ke kelas barunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>Dia melangkah menyusuri koridor yang panjang sambil memperhatikan papan yang tergantung di tiap ruangan. Ketika berjalan sampai di belokan dia menabrak seseorang. Seorang siswi berjilbab yang membawa setumpuk buku terhuyung dan buku di tangannya berhamburan di lantai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Maaf. Maaf. Saya tidak sengaja,”kata Ian buru-buru mengambili buku-buku yang berhamburan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Siswi hanya diam saja sambil menunduk dan mengambil buku-bukunya yang berjatuhan dilantai koridor itu. Belum ada komentar apa pun dari mulutnya yang terkatup. Ian merasa tidak enak karenanya. Buku terakhir yang ada di lantai itu hampir bersamaan di ambil oleh mereka. Keduanya urung dan suasana serba canggung dan grogi tercipta karenanya. Ian semakin merasa tidak enak lagi ketika siswi berjilbab itu sekilas menatapnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Maaf, maaf saya benar-benar tidak sengaja,”kata Ian dengan penuh penyesalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tidak apa-apa kok. Murid pindahan, ya ?”tanya gadis itu dengan senyumnya yang sedikit mengembang tanpa memandang wajah Ian sedikit pun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Iya. Eh, hmm. Maaf, kelas II.1 di mana, ya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kebetulan aku di kelas II.1. Bareng aku saja,”ucap gadis manis di hadapan Ian itu sambil tersenyum dan melangkah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ian mengikuti langkahnya.<span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Maaf. Namaku Ian Khairiansyah. Kamu siapa ?” tanya Ian berbasa-basi sambil mengejar gadis berjilbab itu. Sebenarnya dia tadi sudah sempat melihat badge nama terpasang di bagian depan jilbabnya yang anggun menghias wajahnya. Rupanya dia merasa rikuh ketika Ian menjajari langkahnya dan berusaha berjalan lebih cepat lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Fitria. Fitria Nur Hidayah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><strong><span lang="IN">*****</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Siswa Baru Berkemampuan Aneh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"><span> </span>“</span></strong><span lang="IN">Eh…siapa namamu tadi ? Perkenalkan aku Silvia Anggraini,” Seorang gadis berambut pendek mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun segera saja ia menarik tangannya ketika melihat reaksi orang yang diajaknya bersalaman. “ Idiih sombong banget, sih. Diajak salaman aja nggak mau.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Silvia. Ya ? “ Siswa baru itu tersenyum ramah seolah tanpa rasa bersalah atau penyesalan sedikit pun.” Namaku Ian Khairiansyah. Sorry lho… ya. Bukannya aku nggak mau salaman. Aku ‘kan pendatang baru. Kalau setiap yang kenalan sama aku pada minta salaman, bisa-bisa sepulang sekolah aku harus dirawat seharian dengan sabun anti kuman. Atau direndam pakai <em>desinfectan</em>. Mana mau aku. Eh, siapa tahu kali aja di Solo ini lagi ada wabah yang menular lewat salaman.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Gadis yang sebelumnya merasa agak kecewa itu mau nggak mau, pada akhirnya tersenyum juga mendengar celoteh bersahabat siswa baru itu. Sialan kamu, pikirnya. Dalam waktu sekejap saja dia sudah merasa sangat akrab dengan Ian. Anak baru pindahan dari </span><span lang="IN">Bandung</span><span lang="IN"> itu, kelihatannya memang pintar bergaul, ramah, dan ketampanannya memancar dari wajahnya yang menawan seolah menggambarkan keteguhan hatinya yang berkarakter kuat. Belum lagi, senyumnya yang sesekali menghiasi bibirnya, menampilkan kesan yang mewah dari sosok yang sebenarnya berpenampilan cukup bersahaja dihadapannya itu. Semua itu tidak lepas dari pengamatan Silvia. Karena itulah entah mengapa dia segera merasa akrab.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Silvia. “ Seorang gadis lain berambut sebahu yang berjalan di sisi mereka menyapa Silvia.” Kamu mau ke kantin nggak ? Ceille…tuan putri nih kayaknya nggak mau kehilangan kesempatan ya…begitu ada barang baru …maunya diembat saja. Ian, hati-hati lho, bisa-bisa kamu nanti jadi…ehmm…ehmm.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Silvia nampak cemberut mendengar kicauan cewek yang berusaha menggodanya itu.” Sialan …apa-apaan sih…kamu. Aku sudah bawa bekal, kamu ke kantin saja sendiri, gih…!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“OK. Tapi jangan cemberut gitu dong. Ian bisa kabur lho nanti. Oh, iya …. sebelumnya. Ian kenalkan namaku Dewi. Terserah deh … kamu mau panggil aku Dewi Shinta apa Dewi Gita. Sorry dulu, yah ! aku ke kantin dulu ya … aku sudah ditunggu Inneka di kantin. Da ….da,” Dewi segera berlalu dari tempat itu. Ian masih sempat menangkap senyum nakal dari wajah gadis itu ketika memandang ke arahnya, sebelum lenyap di ambang pintu kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ian hanya menggeleng, senyum yang merekah dari bibirnya ketika itu, begitu terlihat misterius. Silvia segera membuka tasnya. Dari dalam tas berwarna biru laut itu dia mengeluarkan kotak makanan yang kemudian dibukanya. “Ian. Ambil nich. Buatanku sendiri lho.” Katanya sembari menyodorkan kotak makanan berisi roti kering.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Wah sebenarnya nggak enak nich menolak rejeki. Tapi mau gimana lagi aku </span><span lang="IN">kan</span><span lang="IN">…sekarang lagi…hmm…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Kenapa lagi takut diracuni…habis makan harus dirawat untuk pembersihan perut..”muka Silvia kembali kelihatan sewot karena merasa kebaikan hatinya ditolak oleh pemuda dihadapannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Nggak kok. Kebetulan hari ini aku sedang puasa. Besok-besok deh kamu bawa yang banyak pasti tak habiskan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh puasa ya, “ Silvia manggut-manggut. “Puasa apa ? Biar lancar jodoh, ritual biar disenengin cewek-cewek..atau…ini </span><span lang="IN">kan</span><span lang="IN"> bukan bulan puasa.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"><span> </span>“</span></strong><span lang="IN">Ye…memangnya puasa cuma bulan Ramadhan. ‘Kan ada puasa shunnah. Sejak aku masih kecil keluarga memang terbiasa melakukan puasa, akhirnya aku pun jadi ikutan terbiasa. Bagus juga tuh manfaatnya. Membuat tubuh sehat dan otak lebih bisa digunakan untuk berfikir. Kamu juga bisa kok puasa, buat cewek kayak kamu bisa sekalian diet lho. Lagian kalau puasa cuma mau nyari yang kayak gitu … apa tadi cewek kayaknya Ian ini nggak perlu puasa deh…begitu mangkal saja sudah pasti dikerumunin cewek-cewek. Buktinya baru hari saja sudah ada korban di depan saya..”Kata Ian sambil nyengir dan tertawa kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Idiih.” Silvia yang gemas hampir saja mencubit Ian, tapi diurungkannya niat itu, bagaimana pun tiba-tiba muncul rasa segan dalam hatinya. Sangat jarang pada jaman sekarang ini anak muda yang mau repot-repot ‘kelaparan’ ” Kalau gitu maaf yach..tadi sudah sempat nuduh yang bukan-bukan. Aneh juga sih, mau-maunya anak sekarang menahan lapar ? ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tahu nggak kamu ? Dari buku yang pernah aku baca. Puasa Senin-Kamis -sepreti yang aku lakukan sekarang ini – banyak banget lho manfaatnya untuk kesehatan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh, ya ?” ungkap Silvia kurang antusias. Kayaknya anak baru ini mau menceramahinya dengan khutbah agama, pikirnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Bagi manusia kesehatan itu sangat perlu. Termasuk untuk kamu yang suka masak, bukan ? Melihat dari kue yang kamu buat, dari tekstur, warna, dan baunya, agaknya kamu bukan hanya sekedar membuat kue dari bahan-bahan yang tersedia. Bukan bahan-bahan yang mahal tetapi kamu memilih bahan-bahan itu dengan cukup selektif. Kulihat kamu cukup memperhatikan masalah kebutuhan kalori serta cukup memperhatikan kebersihan dan kesehatan !” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Mendengar celoteh siswa baru itu Silvia tersipu malu sendiri. Namun heran juga, tebakan siswa pindahan dari Bandung itu sedemikian tepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh, ya. Kamu pintar menebak. Yah, begitulah saya. Calon ibu rumah tangga yang baik, bukan ?” kata silvia sambil tersenyum menunjukkan kebanggaan. Senang dia mendengar celoteh Ian yang lebih dirasakan sebagai sebuah pujian itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Begitu juga dengan puasa, Kata Ian. Silvia menjadi bingung, kemana anak ini mau nyambung. Sementara Ian melanjutkan. “ Menurut sebuah penelitian yang dilakukan para sarjana di Barat terhadap sejumlah tikus yang diperlakukan seperti manusia yang sedang melakukan puasa Senin-kamis, ternyata hasilnya sangat mengejutkan. Kamu tahu tidak ? Para peneliti itu membandingkan sejumlah tikus yang diperlakukan dengan pola makan biasa dan tikus yang diperlakukan dengan pola makan seperti orang yang puasa Senin-Kamis. Setelah beberapa waktu ternyata sifat kjedua tikus itu berubah. Tikus yang dikondisikan dengan pola makan biasa ternyata sensitivitasnya rendah, gerakannya tidak segesit tikus yang berpuasa, dan sering melakukan banyak kesalahan serta gerakan tidak perlu. Sementara tikus dengan pola makan puasa ternyata selain gerakannya lebih gesit dan lebih sehat, tikus itu memiliki sensitivitas yang tinggi. Bahkan gerakannya lebih teratur dan sistematis.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Cerdas juga kamu,” Silvia berbasa-basi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tentu. Karena itu berpuasalah,” kata Ian singkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kalau niat puasanya biar sehat atau biar pintar, itu sih sama saja dengan puasa buat ritual mencari cewek,” kata Silvia dengan tegas sambil memandang wajah Ian yang sedemikian anggun. Tatapan mata mereka bertemu dan karena itulah sesegera itu pula Silvia memalingkan muka ke arah lain dengan wajah bersemu merah. Sementara Ian hanya cengar-cengir mendengar komentar Silvia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Silvia tentu saja merasa tidak enak kalau harus makan di depan Ian yang saat itu sedang puasa. Bisa dibilang tidak menghormati orang yang sedang berpuasa nanti, pikirnya. Dia segera mengemasi kembali kotak makanannya. Namun, Ia begitu kaget, sambil teriaknya : ” Dodi apa-apaan sih…kamu ?!.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Seorang siswa bertubuh tambun berkaca mata tiba-tiba menyerobot beberapa roti dari wadah itu, secepat itu pula tangan Silvia bereaksi menepis tangan kiri si gemuk itu. Beberapa roti jatuh kemeja namun tangan siswa yang bernama Dodi itu, telah mengenggam beberapa hasil embatannya. Dengan tangan kirinya itu pula dia menyuapkan roti ke mulutnya sambil ketawa-ketiwi tanpa merasa berdosa …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Sorry. Sil. Habis takut nggak dikasih.”Celotehnya sambil terus makan roti dengan tangan kirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Dodi …bener ya, nama kamu Dodi ?,” Ian membuka percakapan dengan si perut besar itu dan mengamat-amatinya.” Kayaknya kebiasaan buruk kamu membaca buku cerita fiksi sambil tiduran dan ngemil itu perlu dikurangi deh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dodi yang saat itu sedang makan roti,<span> </span>mau nggak mau terkejut, setelah itu mulutnya berhenti mengunyah. Dengan penuh keheranan dipandanginya sosok Ian yang sedang tersenyum-senyum” Eh …darimana kamu bisa tahu…aku biasa baca cerita fiksi sambil tiduran.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Melihat ekspresi Dodi selanjutnya, Silvia yang merasa tebakan Ian itu tepat, mau nggak mau ikut-ikutan keheranan, dia memajukan mukanya.” Ian. Tebakan kamu bener ya ? Biasalah, orang gendut biasanya memang suka membaca cerita novel romantis biar tambah pengalaman dan ketularan romantis. Sambil tiduran membayangkan yang bukan-bukan. Ngelonjor….ngelamun jorok. Benar-benar kebiasaan buruk”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dodi jelas tersinggung dengan komentar gadis berambut pendek itu. Nampak jelas guratan perasaan tidak suka di wajahnya yang berlemak. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Agaknya Dodi sudah terbiasa dengan berbagai ejekan dan cemoohan, sehingga hal itu pada akhirnya tidak terlalu mengganggu pikirannya. Sementara Ian hanya tertawa kecil mendengar komentar Silvia yang mencoba memojokkan Dodi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Apa mungkin begitu ?” kata Ian dengan senyumnya yang memiliki kekhasan tersendiri.” Bahkan aku juga sudah tahu, Sil. Bahwa kamu ikut karate dan sering mendemonstrasikan kemampuanmu untuk atraksi tentunya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh ya…?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Sekali ini, gantian Silvia sekarang yang terkejut. Sejak awal Ian menebak tentang dirinya yang selektif terhadap makanan dan memperhatikan kebersihan serta beberapa tebakan lainnya tadi hanya dianggapnya sebagai sebuah kebetulan. Namun Silvia saat ini tidak lagi berfikir bahwa semua itu hanya sekedar sebuah kebetulan belaka. Mana mungkin ada sedemikian banyak kebetulan dari tebakan siswa baru yang bahkan baru dikenalnya hari itu. Ditatapnya pemuda yang duduk dihadapannya itu dengan pandangan menyelidik : “Ian. Kamu punya indera keenam &#8230; ya ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Yee…nuduh. Indera keenam ? kayak paranormal saja,” tampak senyuman aneh tersungging di bibir Ian yang memerah. Silvia jadi sedikit bergidik tercekam perasaan yang mirip kengerian karenanya. Dia merasa bulu kuduknya meremang berdiri tanpa alasan yang jelas. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena Ian telah berdiri beranjak meninggalkan mereka yang diliputi rasa penasaran setelah sebelumnya dengan nada suara yang meyakinkan dia menambahkan: ”Bahkan dari pertemuan singkat kita aku sudah cukup tahu tentang bagaimana sifat dan karakteristik dasar yang kalian miliki dan itu bukan perkara sulit bagiku. Setidaknya aku adalah pengamat perilaku manusia yang cukup baik.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Silvia dan Dodi selanjutnya hanya bisa menyaksikan punggung murid baru itu yang berjalan dengan santai keluar kelas menuju kursi taman yang berada di bawah pohon rindang. Dia tampak duduk di sana menatap langit biru, menyaksikan gumpalan awan putih yang sesekali lewat berarak dan halaman sekolah yang dipanggang dengan terik sinar sang surya yang mulai menghamburkan panasnya. Angin semilir menerpa tubuhnya, sebuah kenyamanan yang langka, sebagaimana<span> </span>didapatkan di </span><span lang="IN">kota</span><span lang="IN"> besar di mana sebelumnya dia pernah tinggal. Agak panas </span><span lang="IN">kota</span><span lang="IN"> ini, kata Ian dalam hati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sementara Silvia dan Dodi saling berpandangan sejenak. Tanpa dikomando, rasa penasaran memaksa mereka menghampiri Ian yang sedang duduk di bawah pohon yang ada di taman itu. Belum lagi mereka sampai di </span><span lang="IN">sana</span><span lang="IN">, Ian telah menyambut mereka dengan senyuman lebar yang khas dan menampilkan kesan berwibawa atau mungkin lebih tepat dikatakan sedikit angkuh. Kemudian sejenak wajah Ian mengeras sesaat, namun sekilas kemudian kembali cerah dengan senyumnya yang simpatik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Hei… ada apa lagi . Tampaknya melihat dari mimik wajah kalian sepertinya masih pengin<span> </span>berkenalan lebih jauh denganku …ya ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Terus terang aku heran dengan tebakan-tebakanmu tadi, “ kata Dodi langsung berterus terang karena merasa ada sesuatu yang janggal dalam diri Ian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Mungkin kamu punya penjelasan untuk semua itu…? Ilmu ghaib, misalnya ? atau sebelumnya kamu sudah mengetahui data-data tentang kami sebelum ke sini..?”. Silvia memuntahkan rasa keheranan sekaligus ketidak sabarannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ilmu ghaib ?&#8230;Baiklah aku percaya hal seperti itu ada, tetapi aku tidak pernah berminat untuk mempelajarinya. Ah…rupanya rasa penasaran kalian tidak dapat lagi disimpan, ya ? Kapan-kapan mungkin kita bisa mendiskusikannya lebih jauh, ‘kan ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Eh. Ian. Cara kamu menebak kami itu terus terang sudah membuat kami begitu penasaran. Apa kamu mau membiarkan kami mati penasaran ? pokoknya, kamu harus segera menerangkannya sekarang juga tentang darimana dan siapa yang memberi informasi tentang hobby kami itu kepadamu,” kata Silvia selanjutnya terlihat galak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Kok maksa gitu, sih.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Iya dong selama ini terus terang belum ada yang tahu tentang kebiasaanku membaca cerita fiksi sambil tiduran, lantas dari mana kamu tahu ? Kalau kamu tidak mengatakannya, bisa mencurigakan, bukan ?” tambah Dodi menguatkan Silvia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Wah… jangan begitulah dong. Aku tadi sebenarnya hanya bermaksud iseng saja kok. Kalau saja dari awal aku tahu akibat keisenganku ini akan dituntut seorang wanita cantik dan pemuda gendut, tentu saja aku akan berfikir tujuh kali dulu untuk melakukannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Mana mungkin keisengan bisa setepat itu, “ kata Silvia dengan nada meninggi. “ Ayolah katakan. Ian. Darimana dan siapa yang telah memberitahumu ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Wah kok jadi diinterogasi kayak begini, nich. Lagian apa yang aku tebak tadi bukan hal yang terlalu buruk untuk diketahui orang lain kan ?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“ Ayolah. Ian. Justru kami khawatir karena kamu tadi mengatakan bahwa kamu juga tahu tentang sifat mendasar yang kami miliki. Ian urusan bisa panjang nich, “ tangan Silvia mengepal seolah mencoba unjuk kekuatan sekaligus menegaskan ancaman, walau sebenarnya sejak awal telah tumbuh rasa segan dihatinya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">“Yah. Omong besarku kadang memang cukup bisa membawaku ke tiang gantungan. Baiklah akan kukatakan. Aku tidak mau kalian salah sangka tentang aku, “ Ian akhirnya menyerah juga setelah terjadi dialog yang lumayan lama. Sambil tersenyum dan mengangkat bahunya dengan kedua tangannya terentang ke samping dia menatap kedua teman barunya itu satu persatu. “Terus terang, aku selalu berfikir dengan menggunakan sebuah metode, itu kuncinya. Kalian paham ? Oh, baiklah. Sederhananya, aku memakai metode tertentu untuk menebak kalian dan nyatanya metodeku itu berhasil terbukti…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ayolah sobat …jangan terlalu bertele-tele,” Dodi semakin terlihat tidak sabar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Bahkan bukan hanya hobby atau kebiasaan kalian yang aku tahu. sifat dan karakter dasar kalian, …,” celoteh Ian berkepanjangan seolah tanpa memperhatikan ketidaksabaran lawan bicaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Uh…kamu terlau banyak berteka-teki…”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sabar nona manis,” Ian mulai mencoba menanggapi rasa penasaran mereka.”Dengan metode tertentu yang disebut <em>deduksi</em> aku sanggup mengamati dan menganalisis kalian secara utuh, … lantas menyimpulkan tentang apa yang ada atau siapa sesungguhnya diri kalian. Deduksi&#8230;kalian tahu, bukan ? ” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh, ya ? Deduksi, hm biasanya untuk menggambarkan suatu pola yang bersifat khusus kemudian disimpulkan dengan pola yang lebih bersifat umum. Atau terbalik yah, ah aku lupa. Pokoknya begitu. Terus apa hubungannya dengan tebakan kamu tadi ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Mudah sekali, Dod …aku tahu kamu suka membaca cerita fiksi sambil tiduran dan makan makanan kecil. Penjelasannya sangat sederhana. Aku tadi melihat kamu mengambil roti Silvia dengan tangan kiri dan dengan tangan itu pula kamu memakannya, lantas aku perhatikan kaca matamu. Perutmu yang gendut juga memberi sedikit tambahan informasi yang menguatkan penilaianku tentang kamu. Dari sanalah aku mengambil sebuah konklusi bahwa kamu memiliki kebiasaan buruk membaca buku fiksi sambil tidur-tiduran atau mungkin sebelum tidur. Itu saja… sederhana bukan ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ngomong-ngomong. Kamu membuat aku jadi semakin bingung … nich. Apa hubungannya…?! ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh ya. </span><span lang="IN">Susah</span><span lang="IN"> juga menjelaskannya. Padahal aku bisa menebak kalian dalam waktu kurang dari enam puluh detik. Ah, kadangkala sesuatu itu lebih mudah untuk dilakukan daripada untuk diungkapan. Banyak hal di dunia ini yang tidak mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata…baiklah. Hm … begini … melihat kamu mengambil roti dengan tangan kiri lantas dengan tangan itu juga kamu memakannya, aku yakin hal itu sudah menjadi kebiasaan. Jika itu bukan kebiasaan, walau kamu mengambil roti dengan tangan kiri, ketika akan memakannya tentu kamu memindahkannya dahulu ke tangan kanan. Kebiasaan itu tentunya terbentuk dalam rentang waktu yang cukup panjang dan melalui proses yang berulang-ulang. Lantas apa kira-kira faktor pencetus kebiasaan yang kamu miliki ? Aku kemudian melihat kaca matamu. Beberapa kerusakan mata dalam banyak kasus terjadi karena kebiasaan membaca yang salah, misalnya karena tiduran, sehingga sinar yang dibutuhkan oleh mata saat membaca tidak tercukupi sehingga berefek pada kesehatan mata dalam jangka waktu yang lama…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“ Kamu tadi juga menebak… aku suka membaca cerita fiksi&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Sebentar kawan. Jangan memotong kata-kata dulu sebelum selesai kujelaskan…kita lanjutkan…kemudian otakku menebak bahwa saat membaca kamu memegang buku dengan tangan kanan sambil tiduran dan tangan kiri kamu gunakan untuk mengambil makanan camilan sehingga dalam waktu lama hal itu membentuk kebiasaan makan dengan tangan kiri. Makan terus sih, makanya jadi gendut. Ok,…kemudian buku apa yang bisa dibaca yang memungkinkan pembaca dapat bertahan dalam waktu lama …mungkin sebelum tidur …kalau koran, majalah, atau buku pelajaran kemungkinannya sangat kecil…maka tentunya itu buku cerita fiksi, yah semacam novel atau komik, mestinya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Wah hebat benar kamu. Orang yang nggak tahu bisa salah sangka, nih. Dikiranya kamu dukun sakti alias kakek sihir.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Kakek kamu kali…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Trus penjelasan bahwa aku belajar karate dan sering mengikuti atraksi demonstrasi kemampuan..dari mana kamu tahu ?”, Silvia yang dari tadi sudah cukup bersabar menyela. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tidak sulit…aku mengamati cara berjalanmu. Orang yang terlatih, secara alamiah gerakannya akan memiliki karakteristik dan pola yang berbeda dibandingkan dengan yang tidak terlatih. Dari cara jalanmu stabil dan luwes ketika memindahkan berat tubuhmu, aku<span> </span>tahu kamu telah terlatih dengan tempaan latihan yang kontinu. Sehingga hal itu secara tidak sadar mempengaruhi sikap dan gerak-gerik tubuh. Lantas kuperhatikan beberapa bagian tanganmu terutama telapak tangan, siku, buku-buku jari, dan beberapa bagian tubuhmu yang lain. Terus terang aku agak heran…tangan cewek kok<span> </span>kapalan. Pasti karena sering berbenturan dengan benda keras, tentunya hal itu terjadi saat demo memecah papan, balok, atau pipa dragon dalam salah satu jenis cabang olah raga bela diri. Kemudian kuhubungkan…ketika secara mendadak – semacam reflek akibat sering dilatih &#8211; kamu menepis tangan Dodi saat mengambil rotimu. Secara tidak sadar kamu telah menunjukkan sebuah tangkisan dalam olah raga karate dan kamu cukup terlatih karena sering dipersiapkan mengikuti demo atraksi kemampuan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Oh…ternyata begitu penjelasannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Yach….kalau diterangkan rasanya malah jadi kurang menarik lagi”, Keluh Ian dengan mimik muka yang seolah menggambarkan rasa penyesalan yang amat sangat. “Deduksi merupakan metode penalaran dimana setelah melakukan pengamatan<span> </span>secara cermat, mengumpulkan puzzle-puzzle data yang sebelumnya terserak dan menyusunnya menjadi sebuah rangkaian yang tepat dan menyimpulkan apa sebenarnya yang telah terjadi. Eh …bell masuk tuh. Kayaknya kalian perlu membaca novel “Sherlock Holmes” yang dianggap ‘Kitab Suci Para Detektif’ karangan Sir Arthur Conan Doyle yang berjudul <em>A Study in Scarlet</em>, disana ada sedikit penjelasan tentang ilmu deduksi dan cara penggunaanya. Yuk kita masuk ”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dalam proses berpikir, secara umum struktur logika berpikir dibedakan menjadi dua, yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif adalah kerangka berpikir yang bertitik tolak dari hal-hal atau fakta-fakta yang bersifat khusus atau kongkrit menuju pada<span> </span>tercapainya kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan Logika deduktif merupakan kerangka berpikir yang bertitik tolak dari prinsip-prinsip yang bersifat umum menuju fakta-fakta yang bersifat khusus atau kongkrit sehingga tercapai suatu kesimpulan. Logika berfikir yang demikian banyak diterapkan dalam berbagai bidang dan aspek kehidupan termasuk dalam dunia keilmuan. Dalam bidang hukum sebagai salah satu contoh, <span>logika atau penalaran hukum pada</span> prinsipnya merupakan logika deduktif. Dalam bidang hukum tersebut logika penalaran yang demikian lebih dikenal dengan sebutan silogisme. Kerangka berpikir silogistis bersandar pada dua macam premis (anggapan atau asumsi), yakni premis mayor dan premis minor. Premis mayor dalam silogisme hukum berupa peraturan hukum (ketentuan<span> </span>undang-undang) sedangkan Premis minornya berupa fakta-fakta konkrit dari suatu kasus atau perkara hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Menggunakan deduksi, sebagaimana telah dilakukan dengan baik oleh Ian Khairiansyah, sebenarnya kuncinya terletak pada cara berfikir mundur ke belakang. Hal ini merupakan langkah berfikir yang mudah dan sangat bermanfaat, namun jarang digunakan orang. Tokoh Sherlock Holmes ketika menerangkan tentang ilmu ini pada Watson, sahabatnya, mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari berfikir maju memang lebih praktis, karena itu cara berfikir lainnya (termasuk deduksi) acap kali dilupakan. Bahkan Holmes berani mengklaim, perbandingan orang yang berfikir sintesis dan orang yang biasa berfikir analitis adalah </span><span lang="IN">lima</span><span lang="IN"> puluh banding satu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Masih menurut Holmes, tokoh detektif rekaan Arthur Conan Doyle ini, mengatakan bahwa sebagian besar orang, jika mendengar rangkaian peristiwa, maka dia akan bisa mengatakan hasil akhirnya. Mereka menyatukan rangkaian kejadian itu dalam benak mereka dan menarik kesimpulan logis tentang akibat yang akan timbul. Akan tetapi dalam proses berfikir deduksi ini situasinya terbalik. Kita mendapati hasil akhir atau akibat dari suatu kejadian dan berdasarkan hal itu kita dituntut merunut peristiwa apa saja yang terjadi sebelumnya berdasarkan data yang ada. Tentu saja tidak banyak orang yang berkemampuan demikian. Itulah yang dimaksud berfikir mundur atau berfikir analitis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Melihat Ian yang melangkah menuju kelas, Dodi dan Silvia mau tidak mau mengikutinya. Keheranan mereka telah sedikit terjawab. Siswa baru yang aneh, pikir mereka. Tapi lumayan ganteng dan cerdas, ehmm….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/susiyanto1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/susiyanto1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/susiyanto1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/susiyanto1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/susiyanto1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/susiyanto1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/susiyanto1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/susiyanto1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/susiyanto1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/susiyanto1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/susiyanto1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/susiyanto1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/susiyanto1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/susiyanto1.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=susiyanto1.wordpress.com&amp;blog=5835963&amp;post=3&amp;subd=susiyanto1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://susiyanto1.wordpress.com/2008/12/14/file-1-siswa-baru-berkemampuan-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fb83a6a70f37b6a71e21d1c0cf1421c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">susiyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
